April 12, 2012

Etika Pedagang Muslim

Sejarah masuknya agama Islam ke negeri kita tercinta, Indonesia, sungguhlah unik dan menakjubkan. Betapa tidak, konon, nenek moyang kita beragama Hindu dan Budha serta berada di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha pula. Meski demikian, semua itu tidak dapat menghadang laju pergerakan para penyebar syiar Islam.

Tahukah Anda, siapakah tokoh-tokoh penyebar agama Islam di bumi nusantara ini? Apakah profesi mereka yang berhasil mengislamkan nenek moyang kita? Konon, mereka adalah para pedagang muslim yang singgah di berbagai pelabuhan nusantara, lalu mereka berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Sekarang, coba Anda bandingkan dengan kemajuan dakwah penyebaran syiar Islam di zaman kini. Dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada, para juru dakwah zaman sekarang ternyata belum kuasa mengukirkan sejarah segemilang yang ditorehkan para pedagang kala itu. Padahal kemajuan sudah demikian majunya.

Melalui edisi kali ini, kami mengajak Anda mengenal sejauh manakah keluhuran perilaku, etika dan adab yang seharusnya dimiliki oleh seorang pedagang muslim.

Dengan mengetahui berbagai etika dan adab pengusaha muslim sejati, diharapkan Anda dapat merintis kembali sejarah emas para pedagang dahulu yang sukses memikat hati para mad’unya melalui jalan perdagangan. Lebih dari itu, semoga dengan etika dan adab luhur tersebut, keberkahan rezqi dapat diraih nantinya. Semoga.

Etika Pertama : Ketulusan Niat

Seorang pedagang muslim menjalankan perniagaannya dalam rangka menjaga kehormatan dirinya sehingga ia tidak merendahkan diri dengan meminta-minta. Dengan berniaga, keluhuran jiwa seorang muslim terbukti dengan tercukupinya kebutuhan dan nafkah setiap orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Rasulullah r bersabda, artinya : Andai salah seorang di antara kalian pergi mencari kayu bakar dan memanggulnya di atas punggungnya,
sehingga dengan itu ia dapat bersedekah dan mencukupi kebutuhannya (tidak meminta-minta kepada) orang lain, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, baik orang itu memberinya atau menolak permintaannya, karena sesungguhnya tangan yang (berada) di atas lebih utama daripada tangan yang (berada) di bawah. Mulailah (nafkahmu dari) orang­orang yang menjadi tanggung jawabmu.” [HR. Bukhari dan Muslim].

Etika Kedua: Tangguh dan Pantang Menyerah

Di antara kepribadian pedagang muslim yang membedakannya dari selainnya ialah ketangguhan mental dan jiwanya. Kegagalan dan tantangan, yang kadang menghiasi perjuangannya, tidak menjadikannya lemah dan kendur semangat. Dia akan selalu optimis dan menatap masa depan dengan penuh kepercayaan.

Allah I berfirman, artinya : "Dan apa pun nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allahlah (datangnya)." (QS. An-Nahl : 53).

Etika Ketiga : Tawakkal

Keimanan Anda kepada Allah I sebagai pengusaha muslim, tidak menjadikan Anda bertopang dagu dan pasrah dengan setiap kenyataan. Keimanan terus mendorong Anda untuk berusaha tanpa kenal lelah. Walau demikian, Anda menyerahkan hasil dari usaha keras Anda kepada kehendak dan karunia Allah I . Allah I berfirman, artinya : " Kamilah yang menentukan, di antara mereka, penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian lainnya beberapa derajat, agar mereka dapat mengambil manfaat satu sama lain." (QS. Az-Zukhruf : 32).

Betapa indah gambaran Rasulullah r  tentang tawakkal berikut ini, Andai engkau bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah memberimu rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung yang di pagi hari meninggalkan sarangnya dan ketika senja hari tiba, ia telah kenyang.” [HR. Ahmad].

Dengan demikian, tawakkal yang benar tidak menyebabkan Anda menjadi manusia pemalas. Akan tetapi, tawakal menjadikan Anda dapat menatap hari esok dengan penuh percaya diri tanpa ada kekhawatiran sedikit pun.

Etika Keempat : Tidak Lalai Mengingat Allah Ta’ala

Di antara karakter pengusaha muslim yang sangat indah dan membedakan Anda dari pengusaha nonmuslim ialah bahwa Anda senantiasa ingat kepada Allah ta'ala.

Dengan demikian, Anda senantiasa menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah I tanpa terganggu oleh berbagai aktivitas perniagaan Anda. Allah I berfirman, artinya : "Laki-laki yang tidak terlalaikan dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, (disebabkan) oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli. Mereka takut kepada suatu hari yang, di hari itu, hati dan penglihatan berguncang." (QS. An-Nur : 37).

Anda senantiasa sadar bahwa Allah ta’ala mengetahui setiap perbuatan dan ucapan Anda. Kesadaran ini menjadikan Anda waspada dan tidak menghalalkan segala macam cara dalam mencari keuntungan niaga.

Rasulullah r bersabda, artinya :Jangan pernah engkau merasa (seluruh) rezekimu terlambat datang, karena sesungguhnya tiada seorang pun hamba yang mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir yang ditentukan untuknya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah yang halal dan tinggalkan yang haram.” [HR. Ibnu Majah; Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini sahih].

Anda beriman bahwa harta kekayaan hanyalah titipan dan bahkan ujian, adakah Anda bersyukur atau sebaliknya, kufur. Allah I berfirman, artinya : "Dan ketahuilah bahwa harta benda dan anak keturunanmu hanyalah cobaan, dan sesungguhnya Allah, di sisi-Nya terdapat pahala yang agung." (QS. Al - Anfal : 28).

Anda percaya bahwa keberhasilan hidup tidaklah diukur dari banyak atau sedikitnya kekayaan Anda. Terlalu rendah dan hina bila kesuksesan hidup diukur dengan materi.

Rasulullah r bersabda, artinya : Andai dunia beserta isinya adalah seberat sayap nyamuk, niscaya Allah tidak pernah memberi kesempatan kepada orang kafir untuk meneguk walau hanya seteguk air minum.[HR. Tirmidzi].

Nyatanya, hari ini orang – orang kafir dengan leluasa meneguk air. Berarti memang dunia di sisi Allah I tidak lebih berat dari sehelai sayap nyamuk. Wallahul Musta’an.

Etika Kelima :  Jujur

Syariat Islam mengajarkan untuk selalu berbuat jujur dalam segala keadaan.

Suatu ketika Rasulullah r berkata :“Wahai para pedagang!” Spontan mereka menegakkan leher dan pandangan guna memperhatikan seruan Rasulullah r ini. Lalu, beliau r bersabda, artinya : “Sesungguhnya, kelak di hari kiamat, para pedagang akan dibangkitkan sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” [HR. Tirmidzi, Syaikh Al-Albani rahimahullah menyatakan hadits ini shahih].

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Kebiasaan para pedagang adalah menipu dalam perniagaan dan berambisi untuk menjual barang dagangannya dengan segala cara yang dapat mereka lakukan. Tanpa terkecuali : dengan sumpah palsu dan yang serupa. Karenanya, Nabi r  memvonis mereka sebagai orang-orang jahat (fajir). Beliau hanya mengecualikan -dari vonis ini- para pedagang yang senantiasa menghindari hal-hal yang diharamkan, senantiasa memenuhi sumpah, dan jujur dalam setiap ucapannya.” [Dinukil oleh Al-Mubarakfuri dalam kitabnya, Tuhfatul Ahwadzi, 4:336].

Etika Keenam :  Senantiasa Memudahkan Orang Lain
Dari sahabat Jabir bin Abdillah t, bahwa Rasulullah r  bersabda, artinya : “Semoga Allah senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa memberikan kemudahan ketika ia menjual, ketika membeli, dan ketika menagih.“ [HR. Bukhari].

Sikap Anda ini merupakan cerminan nyata dari keimanan Anda bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sesaat, dan selanjutnya cepat atau lambat Anda pasti berpindah ke alam akhirat. Karenanya, Anda tak kenal lelah untuk terus menerus menabur benih-benih kehidupan akhirat semasa hidup di dunia fana ini.

Pada suatu hari, Rasulullah r  bercerita, “(Pada hari kiamat kelak) Allah mendatangkan salah seorang hamba-Nya yang pernah Dia beri harta kekayaan, kemudian Allah bertanya kepadanya, ‘Apa yang engkau lakukan ketika di dunia?’ (Dan mereka tidak dapat menyembunyikan suatu kejadian pun dari Allah) [QS. An-Nisa’:42]. Sang hamba menjawab, ‘Wahai Tuhanku, Engkau telah mengaruniakan kepadaku harta kekayaan, aku berjual beli dengan orang lain, dan kebiasaanku (akhlakku) adalah senantiasa memudahkan, aku meringankan (tagihan) orang yang mampu dan menunda (tagihan kepada) orang yang tidak mampu.’ Kemudian, Allah ta’ala berfirman, 'Aku lebih berhak untuk melakukan ini daripada engkau. Mudahkanlah hamba-Ku ini!’” [HR. Bukhari dan Muslim].

Etika Ketujuh :  Membelanjakan Harta di Jalan yang Benar

Manisnya kekayaan, mungkin saja menjadikan Anda lalai dan lupa daratan. Betapa tidak, segala yang Anda inginkan dapat terwujud dengan mudah berkat kekayaan Anda yang melimpah.

Keimanan dan keluhuran jiwa Andalah yang dapat menahan Anda dari sikap angkuh dan melampaui batas ketika Anda berhasil mencapai kekayaan.

Rasulullah r  bersabda, artinya : “Kelak, pada hari kiamat, tidaklah kedua kaki seorang hamba dapat bergeser hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya; tentang hartanya, dari mana dan ke mana ia belanjakan; dan tentang badannya, untuk apa ia gunakan.” [HR. Tirmidzi].

Demikian. Semoga risalah singkat ini bermanfaat. Wallahu a’lam.

Maraji’ :  Majalah Al-Furqon, Edisi 07, Tahun ke-10, Shafar 1432 H/Januari 2011 M ; Artikel “Etika Pedagang Muslim”, Oleh : Ust. DR. Muh. Arifin Badri, MA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...