Ujian menyerang
siapa saja tidak pandang bulu. Sebagaimana orang miskin diuji, orang kayapun
demikian. Sebagaimana rakyat jelata hidup di atas ujian, para penguasa juga diuji.
Bahkan bisa jadi ujian yang dirasakan oleh para penguasa dan orang-orang kaya
lebih berat daripada ujian yang dirasakan oleh orang-orang miskin dan rakyat
jelata. Begitu pula, sebagaimana seorang awam diuji, seorang ‘alim pun akan
diuji. Masing – masing tidak lepas dari ujian kehidupan.
Intinya setiap yang
bernyawa pasti diuji sebelum maut menjemputnya. Siapapun juga orangnya. Entah
diuji dengan kesulitan atau diuji dengan kelapangan, kemudian ia akan
dikembalikan kepada Allah I untuk dimintai pertanggungjawaban terhadap
sikap ia menghadapi ujian tersebut. Allah I berfirman :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ
بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji
kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan
hanya kepada kamilah kamu dikembalikan" (QS. Al-Anbiyaa' :
35).
Jika saja orang
kafir tidak selamat dari ujian kehidupan, maka apatah lagi seorang yang beriman
kepada Allah I ,
pasti akan menghadapi ujian. Allah I berfirman :
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا
آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS. Al-'Ankabuut : 2).
Ingatlah, besarnya
ujian sekadar dengan tingkat keimanan. Semakin tinggi iman seseorang maka
semakin tinggi kadar ujian yang akan ia hadapi. Nabi r bersabda
:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ، ثُمَّ
الأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ ، فَإِنْ
كَانَ دِيْنُهُ صَلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِيْ دِيْنِهِ رِقَّةٌ
اُبْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى
يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
"Orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian yang
paling sholeh dan seterusnya. Seseorang diuji berdasarkan agamanya, jika
agamanya kuat maka semakin keras ujiannya, dan jika agamanya lemah maka ia
diuji berdasarkan agamanya. Dan ujian senantiasa menimpa seorang hamba hingga
meninggalkan sang hamba berjalan di atas bumi tanpa ada sebuah dosapun"
(Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 143).
Apa yang menimpa
Anda hari ini, sungguh itupun telah menimpa orang – orang shalih dan beriman
terdahulu. Sebut saja, rasulullah r ,para
nabi, para sahabat rasulullah r , para ulama dan lainnya.
Imam Asy-Syafii rahimahullah
berkata :
Cobaan zaman banyak tidak habis-habisnya
Dan kegembiraan zaman mendatangimu (sesekali) seperti sesekalinya hari
raya
Renungan Ketika
Ujian Datang
Pertama :
Yakinlah bahwa selain Andapun juga diuji. Ada yang diuji dengan kemiskinan. Ada
yang diuji dengan harta, jabatan, dan kekuasaan. Ada yang diuji dengan orangtua
yang tidak mau taat. Ada yang diuji dengan pengkhiatan sahabat. Sungguh,
terlalu banyak model ujian yang menimpa manusia. Maka poisis Anda adalah
sebagaimana manusia-manusia yang lain yang juga ditimpa musibah/ujian yang
beraneka ragam.
Kedua :
Sabarlah dengan ujian yang sedang Anda hadapi. Alhamdulillah Anda masih bisa
memikulnya. Bisa jadi jika Anda diuji dengan ujian yang lain maka Anda tidak
akan mampu menghadapinya. Yakinlah bahwa tidaklah Allah I menguji kecuali dengan ujian yang mampu
dihadapi oleh seorang hamba.
Allah I berfirman-Nya artinya : “… dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang yang benar (imannya). Dan mereka itulah
orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177).
Ibnul Qayyim rahimahullah,
mengutarakan bahwa ayat yang seperti ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an.
Sehingga keberadaan sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan dari Allah adalah
benar-benar menjadi barometer keimanan dan ketakwaan kepada Allah I .[Kitab Madarijus Salikin 2/152].
Ketiga :
Terkadang syaitan membisikkan kepada Anda bahwa ujian yang Anda hadapi
sangatlah berat dan tidak mungkin untuk Anda pikul. Maka ingatlah bahwa saat ini
masih terlalu banyak orang yang diuji dengan ujian yang jauh lebih berat dengan
ujian yang sedang Anda hadapi.
Keempat :
Bukankah ujian jika dihadapi dengan kesabaran maka akan menghapus dosa-dosa dan
meninggikan derajat??
Selain Allah
memberikan ganjaran yang lebih baik dari amalannya kepada orang yang sabar,
Allah juga memberikan ampunan kepada mereka. Sebagaimana disebutkan dalam
firman-Nya I, artinya
: ”kecuali orang-orang yang sabar (terhadap ujian),
dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu peroleh ampunan dan pahala yang
besar”.
(QS. Hud: 11).
Dari ‘Aisyah radhiallahu
‘anha, beliau berkata : “Rasulullah r bersabda,
artinya : “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seorang muslim, melainkan
Allah I telah menghapus
dengan musibah itu dosanya. Meskipun musibah itu adalah duri yang menusuk
dirinya.”
(HR. Al-Bukhari no. 3405 dan Muslim 140-141/1062).
Kelima : Bahkan
bisa jadi Allah I menghendaki Anda untuk meraih sebuah tempat
yang tinggi di surga yang tidak mungkin Anda peroleh dengan hanya sekedar
amalan-amalan shalih Anda. Amalan shalih Anda tidak cukup untuk menaikan Anda
ke tempat tinggi tersebut. Anda tidak akan mampu untuk sampai ke tempat tinggi
tersebut kecuali dengan menjalani ujian-ujian yang tidak henti-hentinya untuk
mengangkat derajat Anda.
Allah I berfirman, artinya : “Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam
syurga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan
ucapan selamat di dalamnya” (QS.
Al-Furqaan: 75).
Keenam : Ingatlah, dengan ujian terkadang kita baru sadar bahwasanya kita ini
sangatlah lemah dan selalu butuh kepada Allah Yang Maha Kuasa. Terkadang
kita baru mengenal yang namanya khusyu' dalam shalat. Kita baru bisa merasakan
kerendahan yang disertai deraian air mata. Kita baru bisa merasakan nikmatnya
ibadah. Kita baru merasakan ketinggian tawakkal kepada Allah I . Tatkala ujian datang, tatkala musibah
menerpa.
Ketujuh :
Ingatlah, dengan ujian atau musibah yang menimpa kita terkadang menghilangkan
sifat ujub pada diri kita. Karena tatkala kita rajin beribadah dan selalu
mendapatkan kenikmatan terkadang timbul ujub dalam diri kita dengan merasa
bahwa diri kita hebat dan selalu beruntung. Jangan sampai kita salah persepsi
dengan menganggap tanda kecintaan Allah I kepada seorang hamba adalah tidak ditimpanya
sang hamba dengan musibah. Bahkan perkaranya justru sebaliknya. Nabi r bersabda :
إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ
“Jika Allah mencintai sebuah kaum maka Allah akan menguji mereka” (Dishahihkan
oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 146).
Kedelapan : Berprasangka baiklah kepada Allah I , yakinlah bahwa dibalik ujian dan musibah yang
menimpamu ada kebaikan dan hikmah. Justru jika ujian tersebut tidak
datang dan jika musibah tersebut tidak menimpamu bisa jadi kondisi yang datang
kemudian adalah lebih buruk. Allah I berfirman, artinya : “Dan boleh jadi kalian membeci sesuatu padahal ia amat baik bagi
kalian”
(QS. Al-Baqarah : 216).
Kesembilan : Bahkan
bisa jadi musibah atau ujian yang kita benci tersebut bahkan mendatangkan
banyak kebaikan. Allah I berfirman, artinya : “Maka mungkin kalian membenci sesuatu padahal Allah menjadikan padanya
kebaikan yang banyak” (QS.
An-Nisaa : 19).
Kesepuluh :
Ingatlah, bahwasanya hidup di dunia tidak ada istrirahat total. Kegembiraaan
total, kecuali di akhirat kelak. Selama Anda masih hidup di dunia maka
siap-siaplah dengan ujian yang menghadang. Bersabarlah, tegarlah, demi meraih
ketentaraman dan kebahagiaan abadi kelak di surga. Seorang awam biasa berkata,
“Kalau mau hidup di dunia harus siap diuji, kalau tidak mau diuji, ya, jangan
hidup di dunia!”.Mungkin benar juga apa kata mereka.
Akhirnya, banyaknya ujian
yang menimpa orang-orang besar, justru memperkuat rasa tawakal dan kerelaan mereka
kepada keputusan Allah I. Di
situlah tampak kadar kekuatan iman seseorang bukan hanya dalam raka’at-raka’at
pendek saja. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata : “Pada saat manusia sama-sama sehat, mereka sejajar dalam iman, namun
tatkala bencana menimpa, tersingkaplah siapa yang benar-benar kokoh iman-Nya.” Wallahu a’lam.
[Maraji’ : Artikel “10 Renungan
Bagi Yang Ditimpa Ujian/Musibah”, Ust. Firanda ndirja,
Lc.,MA. ; Kutipan Buku “Shaidul Khathir”, Imam Ibnu Al-Jauziy ; Artikel
“Sabar Menghadapi Ujian Hidup”, Dewi Yana @ http://dewiyana.cybermq/com
dan lainnya].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar