Makin berisi makin merunduk. Begitulah peribahasa
'ilmu padi' yang sering kita dengar. Semakin ia berisi dengan padi dengan mutu
yang baik, maka batangnya pun akan semakin merunduk.
Dalam syari'at Islam yang mulia pun diajarkan hal yang
serupa, sifat dan sikap merunduk ibarat padi, yakni tawadhu’.
Tawadhu’ adalah sifat yang amat mulia, namun sedikit yang memilikinya dan banyak
yang melupakannya. Ia adalah sifat yang begitu mahal kita dapatkan saat ini. Di
saat manusia merasa “di atas angin” karena telah berilmu pengetahuan dan
memiliki banyak “kelebihan”, ia pun berjalan di muka bumi dengan perasaan
“tinggi” dan sombong. Sampai pun kepada
mereka yang menisbahkan dirinya kepada dakwah
Islam, ;
pejuang kejayaan Islam. Wal’iyadzubillah.
Padahal Allah I dalam beberapa
firman-Nya di dalam al-Qur’an memberikan pujian bagi orang-orang yang tawadhu’
dan membenci orang yang sombong.
Allah I berfirman, artinya : “Dan
hamba-hamba Allah yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan” (QS. al-Furqon
[25]: 63).
Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله mengatakan: “Firman
Allah berjalan di atas bumi dengan rendah hati yaitu mereka berjalan
dengan tenang, penuh dengan ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong.”
Allah berfirman: “Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman [31]: 18).
Sahabat mulia Ibnu Abbas t berkata: “Yaitu
janganlah kamu sombong, sehingga membawa kalian merendahkan hamba Allah
dan berpaling dari mereka jika mereka berbicara kepadamu.”
Memahami Tawadhu’
Tawadhu’ adalah ridho jika dianggap mempunyai kedudukan lebih rendah dari yang
sepantasnya. Tawadhu’ merupakan sikap pertengahan antara sombong dan melecehkan
diri. Sombong berarti mengangkat diri terlalu tinggi hingga lebih dari yang
semestinya. Sedangkan melecehkan yang dimaksud adalah menempatkan diri terlalu
rendah sehingga sampai pada pelecehan hak (Lihat Adz Dzari’ah ila Makarim
Asy Syari’ah, Ar Roghib Al Ash-fahani, 299).
Ibnu Hajar berkata, “Tawadhu’ adalah menampakkan
diri lebih rendah pada orang yang ingin mengagungkannya. Ada pula yang
mengatakan bahwa tawadhu’ adalah memuliakan orang yang lebih mulia darinya.”
(Fathul Bari, 11: 341).
Tawadhu’ = Menghinakan Diri ?
Kita sering mendengar istilah tawadhu’ dan menghinakan
diri. Apakah tawadhu sama dengan menghinakan diri? ataukah tawadhu harus
dengan menghinakan diri?
Ketahuilah, keduanya sangatlah berbeda dan tidak akan sama.
Sifat tawadhu’ muncul karena atas dasar ilmu dan pengetahuannya kepada
Allah I serta karena pengagungan kepadaNya diikuti
dengan kesadaran mengintropeksi terhadap aib pribadi.
Semua hal tersebut melahirkan sifat tawadhu’ dalam
dirinya. Hatinya tunduk kepada Allah, patuh dan berserah diri serta mempunyai
sifat kasih sayang kepada manusia. Ia melihat tidak mempunyai keutamaan atas
orang lain dan tidak merasa benar sendiri atas orang lain. Akhlak semacam ini
hanyalah pemberian Allah I kepada hamba-Nya yang dicintai dan yang
dimuliakan serta dekat kepadaNya.
Adapun menghinakan diri adalah merendahkan dan
menghinakan dirinya kepada orang lain untuk meraih bagian dan kelezatan
syahwatnya. Seperti perendahan diri karyawan karena ingin mendapat sesuatu yang
diinginkan dari atasannya, kepatuhan orang yang diajak maksiat kepada orang
yang mengajaknya, atau kepatuhan orang yang ingin meraih bagian dunia kepada
orang yang ia harapkan.
Imam Ahmad bin Abdurrohman al-Maqdisi رحمه الله mengatakan: “Sikap
pertengahan adalah dengan tawadhu’ tanpa merendahkan diri, dan ini adalah
terpuji. Sikap tawadhu’ yang terpuji adalah dengan berbuat adil, yaitu
memberikan kepada setiap orang yang mempunyai kedudukan haknya.”
Kemuliaan Dunia dan Akhirat
Dari Abu Hurairah t, ia berkata bahwa Rasulullah r bersabda, artinya : “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada
seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga
tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan
Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588).
Yang dimaksudkan di sini, Allah I akan meninggikan derajatnya di dunia
maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun akan
memuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya semakin
mulia. Sedangkan di akhirat, Allah akan memberinya pahala dan meninggikan
derajatnya karena sifat tawadhu’nya di dunia (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih
Muslim, 16: 142).
Sebab adil, disayangi, dicintai di tengah-tengah
manusia.
Orang tentu saja akan semakin menyayangi orang yang
rendah hati dan tidak menyombongkan diri. Itulah yang terdapat pada sisi Nabi
kita r . Beliau r pernah bersabda, artinya :“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan
padaku untuk memiliki sifat tawadhu’. Janganlah seseorang menyombongkan diri
(berbangga diri) dan melampaui batas pada yang lain.” (HR. Muslim no.
2865).
Mencontoh Sifat Tawadhu’ Nabi r
Allah Ta’ala berfirman, artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al Ahzab: 21).
Lihatlah Nabi r biasa memberi salam pada anak kecil dan
yang lebih rendah kedudukan di bawah beliau. Anas t berkata, “Sungguh Nabi r biasa berkunjung ke orang-orang Anshor.
Lantas beliau memberi salam kepada anak kecil mereka dan mengusap kepala mereka.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya
no. 459. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Subhanallah ... Ini sifat yang sungguh mulia yang jarang kita
temukan saat ini. Sangat sedikit orang yang mau memberi salam kepada orang yang
lebih rendah derajatnya dari dirinya. Boleh jadi orang tersebut lebih mulia di
sisi Allah karena takwa yang ia miliki.
Lihatlah lagi bagaimana keseharian Nabi r di rumahnya. Beliau membantu istrinya.
Bahkan jika sendalnya putus atau bajunya sobek, beliau menjahit dan
memperbaikinya sendiri. Ini beliau lakukan di balik kesibukan beliau untuk
berdakwah dan mengurus umat.
Urwah
t pernah bertanya kepada ‘Aisyah radhiallahu anha ,
“Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah r tatkala
bersamamu (di rumahmu)?”
Aisyah menjawab, “Beliau melakukan
seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu
istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di
ember.” (HR. Ahmad 6: 167 dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya no. 5676.
Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Rasulullah r tanpa rasa malu membantu pekerjaan istrinya. ‘Aisyah radhiallahu
anha pernah ditanya tentang apa yang dikerjakan Nabi r ketika berada di rumah. Lalu ‘Aisyah radhiallahu
anha menjawab, “Beliau selalu membantu pekerjaan
keluarganya, dan jika datang waktu shalat maka beliau keluar untuk melaksanakan
shalat.” (HR. Bukhari no. 676).
Bagaimana dengan kita? Masihkah kita malu untuk
mengerjakan sebagian rutinitas rumah tangga dari seorang ibu atau isteri?
Berfikirlah Dari Apa Kita Diciptakan
Jika seorang muslim bisa mengukur diri,
dan menyadari siapa dirinya, dia akan menilai bahwa dirinya adalah insan yang
rendah dan hina. Karena manusia bila dilihat dari asal penciptaan berasal dari
setetes mani yang keluar dari saluran air kencing, kemudian menjadi segumpal
darah, segumpal daging dan akhirnya menjadi seorang insan.
Allah I berfirman: “Dari apakah
Allah menciptakannya? dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu
menentukannya. kemudian Dia memudahkan jalannya.” (QS. ’Abasa [80]: 18-20).
Apabila kondisi manusia seperti ini,
mengapa ia sombong dan tidak tawadhu’?! Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Bagaimana mungkin
seseorang tidak tawadhu’ padahal ia diciptakan dari setetes mani yang hina dan
akhir hidupnya ia akan kembali menjadi bangkai yang menjijikkan serta kehidupannya
di dunia ia membawa kotoran?”
Kenalilah diri Anda, karena Allah I berfirman, artinya : “Dan janganlah kamu berjalan
di muka bumi inidengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak
dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”
(QS. al-Isro’ [17]: 37).
Nasehat Para Ulama
Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata, “Tahukah
kalian apa itu tawadhu’? Tawadhu’ adalah engkau keluar dari
kediamanmu lantas engkau bertemu seorang muslim. Kemudian engkau merasa bahwa
ia lebih mulia darimu.”
Imam Asy Syafi’i رحمه الله berkata, “Orang yang paling tinggi
kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya. Dan orang
yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliannya.”
(Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 304).
Abdullah bin Mubarak رحمه الله berkata, “Puncak dari tawadhu’ adalah
engkau meletakkan dirimu di bawah orang yang lebih rendah darimu dalam nikmat
Allah, sampai-sampai engkau memberitahukannya bahwa engkau tidaklah semulia
dirinya.” (Syu’abul Iman, Al Baihaqi, 6: 298).
Yahya bin Ma’in رحمه الله berkata, “Aku tidaklah
pernah melihat orang semisal Imam Ahmad! Aku telah bersahabat dengan beliau
selama 50 tahun, namun beliau sama sekali tidak pernah menyombongkan diri
terhadap kebaikan yang ia miliki.”
Ya Allah, muliakanlah kami dengan sifat tawadhu’ dan
jauhkanlah kami dari sifat sombong.
Wallahu waliyyuttaufiq.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar