![]() |
Hiruk-pikuk dunia demokrasi saat ini telah mengilhami banyaknya demonstrasi kepada para penguasa. Mereka pun dicela, dihina bahkan digulingkan dari tahta kekuasaanya. “Ini atas nama demokrasi”, kata para demonstran.
Fenomena ini hangat terjadi di beberapa wilayah Arab dan Afrika. Di sana terjadi perubahan politik yang luas yang mengakibatkan turunnya para penguasa yang sudah memerintah selama puluhan tahun akibat tekanan rakyat yang begitu besar.
Kemudian, bagaimana sebenarnya sikap yang benar sesuai tuntunan agama kita yang suci terhadap para pengusa? Berikut kami tuliskan secara singkat, semoga bermanfaat.
TAAT KEPADA PEMIMPIN
Sesungguhnya taat kepada pemimpin termasuk bagian dari dasar aqidah atau i'tiqad Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. An Nisa : 59)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan : "Ulil Amri mencakupi dua golongan, yaitu ulama dan penguasa." (Majmu' Fatawa, 18/158).
Maka wajib menjadikan kepemimpinan sebagai agama dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan kepada pemimpin dalam ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya merupakan ibadah yang paling utama (Majmû’ Fatâwâ, XXVIII/390-391).
Taat : Pada Hal Ma’ruf (Bukan Maksiat)
Perlu dipahami bahwa kewajiban untuk taat kepada penguasa atau pemimpin adalah dalam perkara yang ma’ruf dan tidak bertentangan dengan syariat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, artinya ; “Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah berbuat kemaksiatan. Apabila penguasa memerintahkan melakukan kemaksiatan maka tidak perlu didengar dan ditaati (kemaksiatan itu)”. (HR. Bukhari 13/121, Muslim 3/1469).
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata : "Hadis ini menunjukkan wajibnya taat kepada penguasa, hal itu berlaku dalam perkara yang bukan maksiat. Hikmahnya taat kepada penguasa adalah agar menjaga persatuan kalimat, karena yang dinamakan sebagai perpecahan adalah kehancuran."(Fathul Bari, 13/112).
ADAB KEPADA PENGUASA
Islam mengatur bagaimana seharusnya hubungan di antara rakyat dengan penguasa, agar hubungan ini berjalan dengan harmonis sehingga terbentuklah sebuah susunan dan jalinan masyarakat yang diidam-idamkan.
Menghormati Penguasa
Tidak boleh bagi seorangpun untuk melecehkan penguasa, mencelanya atau mengumpatnya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melarang keras sikap merendahkan penguasa, beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, artinya ; “Para penguasa adalah naungan Allah di muka bumi. Barangsiapa yang memuliakan penguasa, Allah akan memuliakannya. Barangsiapa yang menghina penguasa, Allah akan menghinakan dia. (HR.Baihaqi 17/6. Lihat as-Sahihah 5/376).
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala merahmati Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah yang telah berkata : "Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menghormati penguasa dan para ulama. Apabila mereka mengagungkan dua golongan ini, Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Apabila mereka merendahkannya, bererti mereka telah menghancurkan dunia dan akhirat mereka sendiri." (Tafsir al-Qurthubi, 5/260).
Menasehati Kemungkaran Penguasa
Penguasa adalah bagian dari kaum muslimin yang berhak dinasihati. Akan tetapi menasihati penguasa tidak sama seperti menasihati kaum muslimin selain mereka. Tuntunan syariat dalam menasehati mereka adalah dengan menasehatinya secara sirr (diam-diam/rahasia).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, artinya : “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Zhilalul Jannah, (no. 1096)).
Imam Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam Shahihnya meriwayatkan: “Dikatakan kepada Usamah bin Zaid radhiallahu anhu, “Kalau sekiranya engkau mendatangi si fulan (dalam riwayat Imam Muslim, si fulan yang dimaksud adalah: Utsman bin Affan radhiallahu anhu) lalu engkau menasihatinya?” Usamah menjawab, “Sesungguhnya kalian benar-benar mengira bahwa aku tidak menasihatinya, kecuali jika aku memperdengarkannya kepada kalian?! Sungguh aku telah menasihatinya secara diam-diam, tanpa aku membuka sebuah pintu yang semoga aku bukanlah orang pertama yang membuka pintu tersebut.”
Dari penjelasan di atas, maka telah jelas bahwa menasihati penguasa tidak boleh dilakukan secara terang-terangan, baik melalui demonstrasi, berbicara di mimbar-mimbar terbuka, ataupun melalui media – media yang dapat disebarkan secara terbuka.
Bersabar Atas Kezhaliman Penguasa
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, artinya : “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang tidak ia sukai (kemungkaran) yang ada pada pemimpin negaranya, maka hendaklah ia bersabar, karena sesungguhnya barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (pemerintah) kemudian ia mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma).
Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Jika tidak memungkinkan untuk menasihati penguasa (dengan cara yang syar’i), maka solusi akhirnya adalah sabar dan doa, karena dahulu mereka –yakni sahabat- melarang dari mencaci penguasa”. Kemudian beliau menyebutkan sanad satu atsar dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, beliau (Anas) berkata, “Dahulu para pembesar Sahabat Rasulullah r melarang dari mencaci para penguasa.” [Lihat At-Tamhid, Al-Imam Ibnu Abdil Barr, (21/287)].
Tidak Memberontak
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, artinya : “Sebaik-baik penguasa adalah yang kalian mencintainya dan mereka mencintai kalian. Kalian mendo`akannya dan mereka mendo'akan kalian. Seburuk-buruk penguasa adalah yang kalian membencinya dan mereka pun membenci kalian, kalian mencacinya dan mereka mencaci kalian." Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ditanya: "Wahai Rasulullah tidakkah kita memberontak dengan pedang?" beliau r menjawab: "Jangan, selama mereka masih menegakkan sholat." Apabila kalian melihat sesuatu yang kalian benci dari penguasa kalian, maka bencilah perbuatannya dan janganlah kalian mencabut ketaatan dari mereka. (HR.Muslim, 3/1481).
Sungguh sejarah telah mencatat kekejaman seorang yang bernama Hajjaj bin Yusuf as-Tsaqofi. Dia telah banyak membunuh jiwa, sehingga sahabat yang mulia Abdullah bin Zubair t terbunuh. Lantas bagaimana sikap para sahabat yang lain, apakah mereka menyusun kekuatan untuk memberontak? Tidak sama sekali, bahkan mereka tetap menganjurkan untuk mendengar dan taat.
Mendo'akan Kebaikan Bagi Penguasa
Abu Utsman Said bin Ismail rahimahullah berkata: "Nasihatilah penguasa, perbanyaklah mendo'akan kebaikan bagi mereka dengan ucapan, perbuatan dan hukum. Karena apabila mereka baik, rakyat akan baik. Janganlah kalian mendo'akan keburukkan dan laknat bagi penguasa, karena keburukkan mereka akan bertambah dan bertambah pula musibah bagi kaum muslimin. Do'akanlah mereka agar bertaubat dan meninggalkan keburukkan sehingga musibah hilang dari kaum muslimin." (Syu'abul Iman, 13/99). Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Andaikan aku mempunyai do'a yang mustajab niscaya akan aku panjatkan untuk penguasa." (Dikeluarkan oleh Abu Nuaim dalam al-Hilyah, 8/91).
PENUTUP
Musibah yang silih berganti datang menimpa negeri ini adalah ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Janganlah menyalahkan para penguasa atau rakyatnya. Hendaknya kita muhasabah terhadap diri akan dosa dan kesalahan,karena tidaklah musibah yang menimpa melainkan sebab perbuatan kita sendiri. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, agar Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. Ruum : 41).
Maka, berusahalah agar selalu taat dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tinggalkan dosa, niscaya musibah akan hilang, negeri menjadi makmur, dan Allah pun akan memilihkan pemimpin/penguasa yang baik.
Dikisahkan ada seorang Khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib tlalu berkata : "Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak dikritik oleh orang tidak sebagaimana pemerintahannya Abu Bakar dan Umar?!." Sahabat Ali radhiallahu anhu menjawab :"Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang sepertiku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang sepertimu!" (Syarh Riyadhus Shalihin, 3/43, oleh Ibnu Utsaimin).
Demikian yang dapat kamu tuliskan. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar