Maret 24, 2011

Seharusnya Ditutupi

Anugerah lisan yang fasih terkadang membuat pemiliknya terbuai. Lisan terus menari hingga kehilangan arah. Bencana lisan pun senantiasa mengancam, utamanya bagi setiap kita yang tidak mampu menjaganya agar tetap di atas rambu- rambu syariat.

Terkadang kita merasa begitu nyaman mengayunkannya. Hingga tak terasa membawa pemiliknya ke muara kebinasaan. Padahal, menjaganya adalah keniscayaan untuk meraih jaminan Rasulullah akan surgaNya.


Membuka aib dan kekurangan orang lain adalah salah satu produk dari permainan lisan yang tidak terarah. Seharusnya, setiap kita yang takut akan adzabNya dan meyakini bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha Melihat dan Mendengar seluruh tindak-tanduk kita, mampu menjaga manajemen lisan, saat diam dan bicara.

Edisi kali ini akan membahas bagaimana manajemen lisan terhadap aib dan kekurangan orang lain dalam tinjauan syariat Islam. Selamat membaca.

BERMULA DARI PRASANGKA 

Sungguh, perilaku mengungkap aib dan kekurangan orang lain, lahir dari prasangka – prasangka yang tidak berdasar. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah melarang untuk banyak berprasangka, sebagaimana firmanNya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus) dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang” [QS. Al-Hujuraat : 12].

Larangan yang ada dalam ayat di atas juga dikatakan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, sebagaimana hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu , dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam , beliau bersabda : “Berhati-hatilah kalian terhadap prasangka (buruk), karena prasangka (buruk) itu adalah sedusta-dusta perkataan. Janganlah kalian saling mencari-cari kejelekan (tahassus), saling memata-matai (tajassus), saling hasad, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian, wahai hamba-hamba Allah, orang-orang yang bersaudara” [HR. Bukhari].

CIRI ORANG MUNAFIK

Mencari-cari aib seorang muslim tanpa alasan yang syar’iy adalah ciri-ciri orang munafik. Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu anhu , ia berkata : Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam naik di atas mimbar lalu menyeru dengan suara yang kencang dan bersabda : “Wahai sekalian orang yang telah berislam dengan lisannya namun belum masuk keimanan dalam hatinya. Janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, jangan mencelanya, dan jangan mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim, niscaya Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah cari-cari aibnya, niscaya akan disingkap aibnya itu meskipun di rumahnya sendiri”. Naafi’ berkata : Pada suatu hari Ibnu ‘Umar memandang Ka’bah, lalu berkata : “Alangkah agung engkau dan alangkah agung kehormatanmu (wahai Ka’bah). Namun, kehormatan seorang muslim lebih agung di sisi Allah daripada engkau” [HR. Tirmidzi; dihasankan oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan At-Tirmidziy, 2/391, Maktabah Al-Ma’aarif, Cet. 1/1420 H].

Perkataan beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam : “siapa saja yang telah beriman dengan lisannya namun belum masuk iman itu ke dalam hatinya” menunjukkan siapa saja yang mengghibah dan mencari-cari aib saudaranya yang muslim, maka imannya itu kurang, terjangkit sebagian virus nifak dan iman belum masuk ke dalam hatinya sebagaimana orang-orang munafik. 

Selain itu, salah satu ciri-ciri orang munafik adalah melampaui batas ketika berselisih, sebagaimana riwayat :

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  : “Ada empat hal yang bila ada pada diri seseorang maka dia adalah seorang munafiq - atau - barangsiapa yang memiliki empat tabiat tersebut, maka ia mempunyai tabiat munafik, hingga ia meninggalkannya. Yaitu : jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, jika membuat kesepakatan mengkhianati, dan jika berselisih (bertengkar) maka dia berbuat fajir” [HR. Bukhari].

Makna sabda beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam  : ‘jika berselisih (bertengkar) maka dia berbuat fajir’ ; yaitu bila ia berselisih dengan orang lain, maka ia akan melakukan segala jalan yang tidak disyari’atkan, termasuk melakukan tipu daya dan berbagai perkataan bathil lainnya kepada/tentang lawannya.

Ini dalam perselisihan, lantas bagaimana jika mencari-cari aib itu menjadi kebiasaan kita dalam setiap pembicaraan ? Tidakkah kita takut Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan menyingkap aib-aib kita di mata dan telinga manusia? Bahkan di hari kiamat kelak ? Wallahul Musta’an.

SEHARUSNYA DITUTUPI

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhir” [QS. An-Nuur : 19].

Ibnu Katsir rahimahullah berkata : Bagi siapa saja yang mendengar sesuatu dari perkataan yang buruk, lalu dengan pikirannya tergambar sesuatu yang akan diucapkannya; maka janganlah ia bergegas memperbanyak dan menyiarkannya” [Tafsir Ibni Katsir, 6/29].

Ibnu Rajab Al-Hanbaliy rahimahullah berkata : Maksudnya adalah menyebarkan perbuatan keji seorang mukmin yang berusaha menutupi aib yang ada pada dirinya tersebut, atau menuduh seorang mukmin dengan satu kekejian yang ia berlepas diri darinya (tidak melakukannya)” [Jaami’ul-‘Ulum wal-Hikam, hadits no. 36; tahqiq : Dr. Maahir Yasin Al-Fakhl].

Diriwayatkan dari ‘Aliy bin Abi Thalib radhiallahu anhu, ia berkata : “Orang yang mengatakan kekejian dan orang yang menyebarkannya; dalam dosa adalah sama” [HR. Bukhari dalam Al-Adabul-Mufrad no. 234].

Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :  “Setiap umatku dimaafkan (dosanya) kecuali orang-orang terang-terangan melakukan dosa. Dan sesungguhnya diantara terang-terangan (melakukan dosa) adalah seorang hamba yang melakukan amalan di waktu malam sementara Allah telah menutupinya kemudian di waktu pagi dia berkata : 'Wahai Fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu’, padahal pada malam harinya (dosanya) telah ditutupi oleh Rabb-nya. Ia pun bermalam dalam keadaan (dosanya) telah ditutupi oleh Rabbnya dan di pagi harinya ia menyingkap apa yang telah ditutupi oleh Allah” [HR. Bukhari].

Bahkan, perintah menutupi kesalahan ini bukan hanya untuk menutupi kesalahan orang lain, tapi juga menutupi kesalahan diri sendiri.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, ia berkata : Seorang laki-laki datang menemui Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  dan berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menggauli seorang wanita di pelosok Madinah dan aku telah melakukan segala sesuatu kecuali jima’. Maka, aku datang menyerahkan diriku untuk dihukum sesukamu”. Ketika mendengar hal itu, ‘Umar berkata : “Sungguh Allah telah menutupinya seandainya engkau menutupi kesalahanmu itu”. (Ibnu Mas’uud berkata :) Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  tidak menjawab sedikitpun [HR. Muslim].

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengingkari apa yang dikatakan ‘Umar bin Al-Khaththaab radhiallahu anhu agar orang tersebut menutupi kesalahannya sehingga tidak meneruskan perkaranya.

JANJI YANG PASTI 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan janji akan menutupi aib-aib kita kelak di hari kiamat jika kita menutupi aib-aib saudara kita di dunia.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda :
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيامَة 
“Barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat” [HR. Muslim dan yang lainnya].

Di sisi lain, Allah Subhanahu Wa Ta'ala  juga akan menyiapkan adzab yang pedih bagi mereka yang senang mengumbar aib saudaranya.

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu anhu  dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: “Ketika aku diangkat (mi’raj) ke langit, aku melewati suatu kaum yang kuku mereka terbuat dari tembaga, kuku itu mereka gunakan untuk mencakar muka dan dada mereka. Aku lalu bertanya, “Wahai Jibril, siapa mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka itu adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan terjun membicarakan kehormatan mereka.” (HR. Abu Daud ; dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5213). Wallahul Musta’an.

MENCARI AIB = BINASA

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah mengatakan bahwa mencari-cari aib orang lain itu sama dengan usaha untuk merusaknya/membinasakannya.

Dari Mu’awiyyah radhiallahu anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  bersabda : “Sungguh jika kalian berusaha mencari-cari kesalahan manusia, maka sesungguhnya kalian telah merusak/membinasakan mereka atau hampir-hampir saja kalian merusak/membinasakan mereka” [HR. Abu Daawud; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahih Sunan Abi Daawud, 3/199].

Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga bersabda : “Sesungguhnya seorang amir jika ia mencari-cari hal-hal yang mencurigakan (kekeliruan) rakyatnya, maka ia telah merusak mereka” [HR. Abu Daawud : Shahih Sunan Abi Daawud, 3/199].

TELADAN PARA SAHABAT/SALAF

Sungguh,  para shahabat dan salaf al-shalih adalah orang yang sangat sayang kepada manusia sehingga berupaya menutupi segala aib dan kesalahan; padahal diketahui mereka adalah pribadi-pribadi yang sangat tegas dalam membasmi kemunkaran. 

Diriwayatkan bahwasannya ‘Abdullah bin ‘Utbah berkata : Aku mendengar ‘Umar bin Al-Khaththaab radhiallahu anhu  berkata : “Dahulu orang-orang melakukan dosa, akan disingkap kesalahannya itu dengan perantaraan wahyu. Akan tetapi saat ini, wahyu telah terputus. Maka, kami hanya menghukum kalian terhadap apa-apa yang nampak dari amal-amal kalian. Barangsiapa yang menampakkan kebaikan, kami akan mempercayainya, dan kami tidak akan mengusik segala yang tersembunyi darinya. Allah lah yang akan menghisab apa-apa yang tersembunyi darinya. Namun barangsiapa yang menampakkan kejahatan, maka kami tidak akan mempercayainya meskipun ia berkata : ‘Sesungguhnya apa yang ia inginkan dalam hatinya adalah kebaikan” [HR. Bukhari].

Terakhir, sepatutnya seorang mukmin, hendaknya berkata tentang sesuatu yang mengandung kemanfaatan. Seandainya itu tidak sanggup, hendaklah ia diam.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bicara yang baik (bermanfaat) atau diam”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Luqman Al Hakim berkata, “Diam itu hikmah, namun sedikit orang yang melakukannya” .

Wallahu a’lam.

Maraji’ :


2 komentar:

  1. Blog-nya menarik bang.
    Ini aku buat bahan resensi tugas Agama, dan cocok.
    Tema dari blog-nya pun adem, bikin betah dan nyaman berada disini, juga rapi.

    BalasHapus
  2. http://brillyelrasheed.blogspot.com/2014/06/diam-itu-emas.html

    BalasHapus

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...