Maret 21, 2011

Bekerja, Orientasi Akhirat

Jika selama ini, kita diajarkan sejak kecil untuk menggantungkan cita-cita setinggi langit, maka sekalian saja naikkan cita-cita kita ke akhirat. Kenapa tidak?

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :


مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ 


Artinya : “Barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat” (QS. Syura : 20).

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا .وَالآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى  
Artinya : “tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. Al-A’la : 16-17).

Banyak yang bertanya, "Bagaimana contoh bekerja dengan orientasi akhirat?"

Maka jawabannya sangatlah variatif : bekerja karena ingin menikah, karena ingin menafkahi keluarga, ingin membantu keluarga yang tidak mampu, ingin berhaji, ingin banyak bersedekah seperti si fulan, ingin membangun 100 rumah sakit Islam, ingin menyantuni satu juta anak yatim, dan seterusnya....

Ada kisah menarik di zaman keemasan generasi salaf, tabiut tabi’in. Seorang ulama besar bernama Abdullah bin Mubarak rahimahullah , seorang ulama, mujahid dan pedagang yang berhasil. Beliau pernah ditanya oleh Fudhail bin Iyadh rahimahullah, “Engkau selalu mengajari kami untuk zuhud terhadap dunia, tetapi aku lihat engkau selalu sibuk berdagang di pasar – pasar”.

Abdullah bin Mubarak rahimahullah menjawab bahwa dia bersemangat berdagang karena ingin menanggung nafkah ulama-ulama ahli hadits, agar para ulama tersebut tetap fokus mengajar ilmu hadits dan tidak sibuk bekerja. Alasannya, kalau mereka sibuk bekerja, mereka tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk mengajarkan hadits." (Siyar A’lamin Nubala’, Imam adz-Dzahabi rahimahullah).

Lihatlah betapa indahnya cita-cita ini, dan betapa Allah Subhanahu Wa Ta'ala
membuktikan janjinya. Beliau rahimahullah justru sukses dalam berdagang, menjadi pengusaha kaya, namun tetap zuhud terhadap dunia, yaitu tidak meletakkan dunia di hatinya. Dunia hanya sarana, bukan tujuan. Beliau mengerti hakikat kehidupan dunia yang fana, dunia hanya wasilah untuk kebahagiaan akhirat.

Contoh motivasi lain adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam
, artinya : "Wajib atas setiap muslim untuk bersedekah." Dikatakan kepada beliau, "Bagaimana bila ia tidak mampu?" Beliau menjawab, "Ia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan (dengannya ia dapat) bersedekah."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Lihatlah, betapa motivasi untuk bekerja hanya karena ingin bersedekah. Sehingga, setelah para sahabat mendengar hadits ini, mereka langsung pergi ke pasar-pasar mencari kerja, meskipun sekadar menjadi kuli angkat barang di punggungnya, hanya untuk mendapatkan upah dan dengan upah itu mereka dapat bersedekah.

Banyak dalil yang menerangkan janji-janji Allah
Subhanahu Wa Ta'ala kepada orang-orang yang berorientasi akhirat, bahwa orang yang berorientasi akhirat akan sukses dunia dan akhiratnya.
 

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, artinya : "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, 'Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dadamu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)." (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim).

Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, artinya : "Barangsiapa yang menjadikan kegelisahan, kegundahan, cita-cita, dan tujuannya hanya satu, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi semua keinginannya. Barangsiapa yang keinginan dan cita-citanya bercerai-berai kepada keadaan-keadaan dunia, materi duniawi, yang dipikirkan hanya itu saja, maka Allah tidak akan peduli di lembah mana dia binasa." (HR. Ibnu Majah : Sanadnya Hasan).

Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, artinya : "Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja." (HR.Tirmidzi dan lainnya ; Sanadnya Shahih).

Sungguh sayang, banyak dari kita yang masih ragu dengan janji-janji Allah
I, dan ikut yakin dengan pameo ini, "Zaman ini adalah zaman edan, kalau tidak ikut arus, bagaimana kita bisa dapat rezeki?", atau "Yang haram saja susah, apalagi yang halal." Maka, jadilah suap-menyuap menjadi keseharian kita, tanpa ada lagi beban, tanpa merasa berdosa, berdusta saat jual-beli menjadi hal yang wajar, dan seterusnya....

Bagaimana mungkin karunia Allah Ta'ala, berupa rezeki, dapat diraih dengan maksiat? Bagaimana mungkin kenikmatan akan kita peroleh dengan maksiat kepada Sang Pemberi Kenikmatan? Mungkin rezeki itu akan didapat, tetapi rezeki itu tidak akan memiliki berkah. Justru, rezeki tersebut akan membawa petaka.

Perhatikan sabda Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam, artinya :
"Janganlah kamu merasa bahwa rezekimu datangnya terlambat, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram." (HR. Abdur Razaq, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhu
, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  ,  artinya : "Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah nafkah dengan cara yang baik, karena sesungguhnya seseorang sekali-kali tidak akan meninggal dunia sebelum rezekinya disempurnakan, sekalipun rezekinya terlambat (datang) kepadanya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram." (Shahih Ibnu Majah 1743 dan Ibnu Majah II : 725, 214).

Kita diperintahkan untuk berusaha, bersungguh-sungguh, bekerja, memperbaiki mata pencarian, meninggalkan yang haram, dan diperintahkan untuk bertakwa. Rezeki tidak dicari dengan cara maksiat kepada-Nya. Kebahagian dicari tidak dengan bermaksiat kepada Sang Pemberi kebahagiaan.

Ada satu pengalaman pribadi yang menarik, sebagai pembuktian hadits-hadits di atas, yaitu bahwa seseorang tidak akan mati hingga seluruh rezekinya diterima.

Kejadiannya terjadi pada seorang ayah yang  setelah operasi jantung beliau mengalami komplikasi, dan sempat dirawat di ruang ICU selama 30 hari.

Beliau sempat berada dalam kondisi koma selama 2 minggu, setelah itu sadar dan meminta es krim. Dokter mengizinkanya untuk memakan es krim tersebut. Setelah habis dimakannya, beliau koma lagi selama dua hari, dan akhirnya meninggal dunia.

Kalau diilustrasikan secara sederhana dari kejadian ini, seolah-olah para malaikat menginventaris kembali rezeki yang harus diterima, ternyata ada satu yang tertinggal, yaitu es krim. Maka, orang tersebut dibangunkan, diberi es krim, kemudian nyawanya dicabut setelah seluruh rezekinya diterima. Benar sekali, seseorang tidak akan mati sebelum rezekinya dia terima dengan sempurna. (Kisah : Fadil Fuad Basymeleh, owner Zahir Accounting dalam Seminar Syariah Ekonomi Islam" di Restoran Sami Kuring, Cikarang).

Masih ada lagi yang bertanya, "Untuk apa kita berusaha kalau rezeki sudah ditentukan?" Jangankan kita, para sahabat Nabi r
pun bertanya hal yang sama.

Ali bin Abi Thalib
radhiallahu anhu menceritakan bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam  pernah bersabda, artinya :  “Setiap kalian telah ditulis tempat duduknya di surga atau di neraka.” Maka ada seseorang dari suatu kaum yang berkata, “Kalau begitu, kami bersandar saja (tidak beramal, pent), wahai Rasulullah?”Maka, beliau pun menjawab, “Jangan demikian. Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan.” Kemudian, beliau membaca firman Allah, “Adapun orang-orang yang mau berderma dan bertakwa, serta membenarkan al-husna (surga), maka kami siapkan baginya jalan yang mudah.” (Qs. al-Lail: 5-7). (HR. Bukhari dan Muslim).

Inilah nasihat Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada kita, untuk tidak bertopang dagu, serta supaya senantiasa bersemangat dalam beramal dan tidak menjadikan takdir sebagai dalih untuk bermaksiat dan bermalas-malasan.

Akhirnya, mari kira renungkan firman Allah
Ta'ala :


  مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
 
Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(QS. An-Nahl : 97).

Maka, jika ingin hidup bahagia dengan mendapatkan semua kebaikan (karena ayat tersebut tidak membatasi kebaikan apa, maka ulama menerangkan bahwa yang dimaksud adalah semua kebaikan, baik rezeki, kebahagiaan, ketenangan jiwa, dan lain-lain), maka caranya adalah dengan beramal shalih, dalam keadaan beriman. dalam keadaan beriman.  Wallahu a'lam.

Maraji’ : Sukses Dunia Akhirat, Fadil Fuad Basymeleh ; pengusahamuslim.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...