Ramadhan, tahun ke II Hijriyah. Saat itu di Madinah tersiar berita bahwa sebuah kafilah raksasa kaum musyrikin Quraisy berangkat meninggalkan Syam pulang ke Mekkah. Kafilah yang dipimpin Abu Sufyan bin Harb itu membawa seribu ekor unta penuh muatan barang-barang berharga. Bersamanya ikut tokoh-tokoh Mekkah lainnya yang jumlah keseluruhannya sekitar tiga puluh atau empat puluh orang. Mendengar informasi tersebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata : “Lihatlah itu kafilah Quraisy, membawa harta kekayaan mereka. Berangkatlah menghadang mereka, mudah-mudahan Allah akan memindahkan harta itu kepada kalian.”.
Bagi kaum Muslimin, harta kekayaan sebesar itu adalah sebagai pengganti harta kekayaan mereka yang dirampas oleh kaum musyrikin ketika mereka hijrah ke Madinah. Kalau harta kekayaan sebesar itu lepas dari tangan musyrikin dan berpindah ke tangan kaum Muslimin, maka itu merupakan pukulan dahsyat bagi penduduk Mekkah yang masih setia menjalankan kemusyrikan dan menolak agama tauhid.
Ekspedisi Kecil Menuju Perang Menentukan
Bagi kaum Muslimin, harta kekayaan sebesar itu adalah sebagai pengganti harta kekayaan mereka yang dirampas oleh kaum musyrikin ketika mereka hijrah ke Madinah. Kalau harta kekayaan sebesar itu lepas dari tangan musyrikin dan berpindah ke tangan kaum Muslimin, maka itu merupakan pukulan dahsyat bagi penduduk Mekkah yang masih setia menjalankan kemusyrikan dan menolak agama tauhid.
Ekspedisi Kecil Menuju Perang Menentukan
Kaum Muslimin yang berangkat dalam Perang Badr bersama Rasulullah menyangka perjalanan mereka hanya sebagaimana perjalanan sebelumnya, hanya sebuah ekspedisi kecil menghadang kafilah Quraisy. Tidak terlintas dalam fikiran mereka bahwa ekspedisi kali ini akan menjadi sebuah peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Di pihak lain, Abu Sufyan yang telah mendengar kafilahnya terancam bahaya mengirim kurir, Ibnu ‘Amr Al-Ghifari ke Mekkah untuk minta bantuan pasukan guna menyelamatkan harta kekayaan yang dibawa kafilah. Ibnu ‘Amr, sang kurir mengejutkan penduduk Mekkah dengan aksinya. Setelah untanya ditambat ia berdiri di atas punggungnya, melepaskan kendalinya, merobek-robek bajunya sendiri, kemudian berteriak : “Hai orang-orang Quraisy, bahaya! Bahaya! Harta benda kalian yang dibawa kafilah Abu Sufyan dihadang oleh Muhammad dan kawan-kawannya! Saya fikir, mau tidak mau kalian harus sanggup menyelamatkannya. Bantu….Bantu!
Sementara itu Abu Sufyan rupanya tidak sabar menunggu datangnya bala bantuan dan melakukan sebuah operasi penyelamatan sendiri untuk menghindari pasukan kaum Muslimin. Abu Sufyan segera kembali ke kafilahnya dan melarikan diri ke arah pantai, meninggalkan Badr melalui jalan di sebelah kirinya dan akhirnya berhasil lolos dari rencana penyergapan kaum Muslimin. Ia langsung mengutus kurir kepada kafir Quraisy agar membatalkan pengiriman bala bantuan kepadanya. Abu Jahal yang menerima pesan dari kurir yang diutus oleh Abu Sufyan menjawab dengan congkak : “Demi Allah, kami tidak akan pulang sebelum tiba di Badr. Di sana kami akan tinggal selama tiga hari, memotong ternak, makan beramai-ramai dan minum arak sambil menyaksikan perempuan-perempuan menyanyikan lagu-lagu hiburan. Biarlah semua orang Arab mendengar berita tentang perjalanan kita semua dan biarlah mereka tetap takut kepada kita selama-lamanya.”
Maka, sebuah perang besar dan menentukan akan segera terjadi. Rasulullah telah memprediksi hal tersebut. Karenanya Rasulullah tidak menghiraukan kafilah Abu Sufyan yang berhasil melarikan diri, melainkan berkonsentrasi untuk bersiap menghadapi pasukan kafir Quraisy.
Di saat persiapan perang, Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam mengarahkan pandangannya kepada para sahabat yang berhimpun di sekitarnya. Di antara mereka terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau ingin memastikan kesiapan para sahabatnya dalam menghadapi perang menentukan ini.
Al Miqdad bin ‘Amr dari Muhajirin dengan tegas mengemukakan pendiriannya : “Ya Rasulullah, laksanakanlah apa yang telah diberitahukan Allah kepada Anda, aku tetap bersama Anda! Demi Allah, kami sama sekali tidak akan mengucapkan perkataan yang dahulu pernah diucapkan oleh orang-orang Bani Israil kepada Musa, yaitu “Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami tetap duduk di sini.” Yang kami katakan kepada anda ialah “Pergilah anda bersama Tuhan anda berperang, dan kami bersama anda turut berperang!” Demi Allah yang mengutus anda membawa kebenaran, seandainya anda mengajak kami ke “Barkul Ghimad” (sebuah tempat di Yaman) kami tetap mengikuti anda sampai di sana…”.
Dari golongan Anshar, Sa’ad bin Mu’adz menghalau kekhawatiran Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam dengan ucapannya : “Demi Allah, tampaknya Anda menghendaki ketegasan sikap kami, ya Rasulullah ? Beliau menyahut : “Ya, benar.” Sa’ad melanjutkan : “Ya Rasulullah, kami telah beriman kepada anda dan kami pun membenarkan kenabian dan kerasulan anda. Kami juga telah menjadi saksi, bahwa apa yang anda bawa adalah kebenaran. Atas dasar itu kami telah menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia kepada Anda Ya Rasulullah, jalankanlah apa yang anda kehendaki, kami tetap bersama Anda. Demi Allah seandainya Anda menghadapi lautan dan Anda terjun ke dalamnya, kami pasti akan terjun bersama Anda. Seorang pun di antara kami tidak akan mundur dan kami tidak akan sedih bila Anda menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan hal itu akan kami buktikan dalam konfrontasi nanti. Semoga Allah akan memperlihatkan kepada Anda apa yang sangat Anda inginkan dari kami. Marilah berangkat dengan berkah Ilahi!”
Alangkah gembiranya hati Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam mendengar peryataan para sahabatnya tersebut, kemudian Beliau memerintahkan kepada pasukan kaum Muslimin : “Berangkatlah dengan hati gembira…! Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu di antara dua golongan (Pasukan Abu Jahal atau kafilah Abu Sufyan). Demi Allah, aku seolah-olah melihat tempat-tempat mereka bergelimpangan…”
Kaum Muslimin akhirnya siap untuk menghadapi peperangan. Mereka mengambil posisi yang terdekat dengan sumber air di Badr. Pada malam harinya mereka dapat beristirahat dengan hati penuh keyakinan yang kuat akan janji Allah dan RasulNya. Malam itu turun hujan rintik-rintik membuat udara sejuk dan nyaman. Keesokan harinya mereka merasa segar dan fikiran mereka penuh dengan harapan baru. Pasir sahara di sekitar mereka menjadi agak padat sehingga mudah diinjak dan meringankan orang yang berjalan kaki.
Sementara itu Rasulullah tiada berhenti berdoa dengan khusyu memohon kepada Allah supaya diberi kekuatan untuk mengalahkan musuh. Di antara doa yang beliau ucapkan adalah : “Ya Allah, kalau pasukan (kaum Muslimin) ini sampai binasa, Engkau tidak disembah lagi (oleh manusia) di muka bumi.”
Kemudian beliau memperkeras suaranya : “Ya Allah, tunaikanlah janji yang telah Engkau berikan kepadaku…Ya Allah, pertolongan Mu…Ya Allah!”. Beliau mengangkat kedua belah tangannya sedemikian tinggi hingga burdahnya jatuh dari pundaknya. Abu Bakar Ash Shiddiq yang sejak awal selalu mendampingi beliau menyampirkan kembali burdah di atas pundak beliau seraya berkata dengan perasaan haru : “Ya Rasulullah, kurangilah kesedihan anda dalam berdoa kepada Allah! Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepada anda!” (HR. Bukhari- Muslim).
Perang Tanding : al-Haq Versus al-Bathil
Sementara itu Abu Sufyan rupanya tidak sabar menunggu datangnya bala bantuan dan melakukan sebuah operasi penyelamatan sendiri untuk menghindari pasukan kaum Muslimin. Abu Sufyan segera kembali ke kafilahnya dan melarikan diri ke arah pantai, meninggalkan Badr melalui jalan di sebelah kirinya dan akhirnya berhasil lolos dari rencana penyergapan kaum Muslimin. Ia langsung mengutus kurir kepada kafir Quraisy agar membatalkan pengiriman bala bantuan kepadanya. Abu Jahal yang menerima pesan dari kurir yang diutus oleh Abu Sufyan menjawab dengan congkak : “Demi Allah, kami tidak akan pulang sebelum tiba di Badr. Di sana kami akan tinggal selama tiga hari, memotong ternak, makan beramai-ramai dan minum arak sambil menyaksikan perempuan-perempuan menyanyikan lagu-lagu hiburan. Biarlah semua orang Arab mendengar berita tentang perjalanan kita semua dan biarlah mereka tetap takut kepada kita selama-lamanya.”
Maka, sebuah perang besar dan menentukan akan segera terjadi. Rasulullah telah memprediksi hal tersebut. Karenanya Rasulullah tidak menghiraukan kafilah Abu Sufyan yang berhasil melarikan diri, melainkan berkonsentrasi untuk bersiap menghadapi pasukan kafir Quraisy.
Di saat persiapan perang, Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam mengarahkan pandangannya kepada para sahabat yang berhimpun di sekitarnya. Di antara mereka terdapat kaum Muhajirin dan Anshar. Beliau ingin memastikan kesiapan para sahabatnya dalam menghadapi perang menentukan ini.
Al Miqdad bin ‘Amr dari Muhajirin dengan tegas mengemukakan pendiriannya : “Ya Rasulullah, laksanakanlah apa yang telah diberitahukan Allah kepada Anda, aku tetap bersama Anda! Demi Allah, kami sama sekali tidak akan mengucapkan perkataan yang dahulu pernah diucapkan oleh orang-orang Bani Israil kepada Musa, yaitu “Pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, kami tetap duduk di sini.” Yang kami katakan kepada anda ialah “Pergilah anda bersama Tuhan anda berperang, dan kami bersama anda turut berperang!” Demi Allah yang mengutus anda membawa kebenaran, seandainya anda mengajak kami ke “Barkul Ghimad” (sebuah tempat di Yaman) kami tetap mengikuti anda sampai di sana…”.
Dari golongan Anshar, Sa’ad bin Mu’adz menghalau kekhawatiran Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam dengan ucapannya : “Demi Allah, tampaknya Anda menghendaki ketegasan sikap kami, ya Rasulullah ? Beliau menyahut : “Ya, benar.” Sa’ad melanjutkan : “Ya Rasulullah, kami telah beriman kepada anda dan kami pun membenarkan kenabian dan kerasulan anda. Kami juga telah menjadi saksi, bahwa apa yang anda bawa adalah kebenaran. Atas dasar itu kami telah menyatakan janji dan kepercayaan kami untuk senantiasa taat dan setia kepada Anda Ya Rasulullah, jalankanlah apa yang anda kehendaki, kami tetap bersama Anda. Demi Allah seandainya Anda menghadapi lautan dan Anda terjun ke dalamnya, kami pasti akan terjun bersama Anda. Seorang pun di antara kami tidak akan mundur dan kami tidak akan sedih bila Anda menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan hal itu akan kami buktikan dalam konfrontasi nanti. Semoga Allah akan memperlihatkan kepada Anda apa yang sangat Anda inginkan dari kami. Marilah berangkat dengan berkah Ilahi!”
Alangkah gembiranya hati Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam mendengar peryataan para sahabatnya tersebut, kemudian Beliau memerintahkan kepada pasukan kaum Muslimin : “Berangkatlah dengan hati gembira…! Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu di antara dua golongan (Pasukan Abu Jahal atau kafilah Abu Sufyan). Demi Allah, aku seolah-olah melihat tempat-tempat mereka bergelimpangan…”
Kaum Muslimin akhirnya siap untuk menghadapi peperangan. Mereka mengambil posisi yang terdekat dengan sumber air di Badr. Pada malam harinya mereka dapat beristirahat dengan hati penuh keyakinan yang kuat akan janji Allah dan RasulNya. Malam itu turun hujan rintik-rintik membuat udara sejuk dan nyaman. Keesokan harinya mereka merasa segar dan fikiran mereka penuh dengan harapan baru. Pasir sahara di sekitar mereka menjadi agak padat sehingga mudah diinjak dan meringankan orang yang berjalan kaki.
Sementara itu Rasulullah tiada berhenti berdoa dengan khusyu memohon kepada Allah supaya diberi kekuatan untuk mengalahkan musuh. Di antara doa yang beliau ucapkan adalah : “Ya Allah, kalau pasukan (kaum Muslimin) ini sampai binasa, Engkau tidak disembah lagi (oleh manusia) di muka bumi.”
Kemudian beliau memperkeras suaranya : “Ya Allah, tunaikanlah janji yang telah Engkau berikan kepadaku…Ya Allah, pertolongan Mu…Ya Allah!”. Beliau mengangkat kedua belah tangannya sedemikian tinggi hingga burdahnya jatuh dari pundaknya. Abu Bakar Ash Shiddiq yang sejak awal selalu mendampingi beliau menyampirkan kembali burdah di atas pundak beliau seraya berkata dengan perasaan haru : “Ya Rasulullah, kurangilah kesedihan anda dalam berdoa kepada Allah! Allah pasti akan memenuhi janji yang telah diberikan kepada anda!” (HR. Bukhari- Muslim).
Perang Tanding : al-Haq Versus al-Bathil
Sebagai awal peperangan, terjadilah perang tanding antara beberapa orang pasukan. Majulah ke depan ‘Utbah dan Syaibah, dua orang bersaudara anak lelaki Rabiah dan Al Walid, anak Utbah, tiga-tiganya dari pasukan musyrikin. Dari pasukan kaum Muslimin keluar Abu Ubaidah bin Al Harits, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Ali bin Abi Thalib. Ubaidah perang tanding dengan ‘Utbah. Hamzah melawan Syaibah, dan Ali bin Abi Thalib menghadapi Al Walid. Perang tanding pun dimulai. Hamzah tidak menemui banyak kesukaran untuk mengakhiri perlawanan Syaibah. Demikian pula Ali bin Abi Thalib, dalam perang tandingnya berhasil membunuh lawannya dalam waktu singkat. Sedangkan Ubaidah dalam pertarungan melawan ‘Utbah, yang satu berhasil melukai yang lain. Melihat itu, Hamzah dan Ali menghunus pedang kembali dan dihantamkan kepada ‘Utbah sehingga jatuh terkapar dan mati.
Pertempuran akhirnya meluas dan mendekati titik puncaknya. Saat itu pasukan Muslimin berhasil menguras habis tenaga musuh dan menimpakan kerugiaan besar. Rasulullah terus mendoakan di dalam kemah mengawasi dengan seksama para prajuritnya dan memberikan semangat kepada mereka. Ibnu Ishaq dalam riwayatnya mengatakan: “Ketika itu Rasulullah di dalam kemahnya tampak ‘pingsan’ beberapa saat kemudian sadar kembali, lalu berkata kepada Abu Bakar Ash Shiddiq : ‘Hai Abu Bakar, gembiralah pertolongan Allah telah datang kepadamu. Itulah Jibril memegang tali kekang dan menuntun kudanya!”
Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam keluar dari kemah mendatangi pasukannya dan mendorong mereka supaya lebih gigih menghancurkan musuh. Beliau berseru : “Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tanganNya, setiap orang yang sekarang ini berperang melawan musuh kemudian ia mati dalam keadaan tabah mengharapkan keridhoan Allah dan dalam keadaan terus maju pantang mundur; pasti akan dimasukkan Allah ke dalam surga!”
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, ketika pasukan musyrikin terus maju mendesak, Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam berseru kepada pasukannya: “Siaplah memasuki surga seluas langit dan bumi!” Umair bin Al Humam Al Anshari menyahut : “Ya Rasulullah, surga seluas langit dan bumi?!” Beliau menjawab : “Ya, benar!” “Sungguh indah…sungguh indah!, kata Umair. Rasulullah bertanya : “Apa yang mendorongmu berkata demikian?” Umair menjawab : “Ya Rasulullah! Demi Allah, aku mengatakan itu karena aku ingin menjadi penghuninya!” Beliau menyahut : “Engkau termasuk orang yang akan menghuninya!”. Mendengar jawaban itu, Umair segera mengeluarkan kurma bekalnya dari dalam kantong. Setelah memakan beberapa butir, ia berkata: “Kalau aku hidup sampai menghabiskan semua kurma ini, terlalu lama…!” Ia lalu membuang semua sisa kurmanya, lalu maju menyerang musuh. Umair terus merangsek maju menyerang pasukan kufar hingga gugur.
Tentara Malaikat
Pertempuran akhirnya meluas dan mendekati titik puncaknya. Saat itu pasukan Muslimin berhasil menguras habis tenaga musuh dan menimpakan kerugiaan besar. Rasulullah terus mendoakan di dalam kemah mengawasi dengan seksama para prajuritnya dan memberikan semangat kepada mereka. Ibnu Ishaq dalam riwayatnya mengatakan: “Ketika itu Rasulullah di dalam kemahnya tampak ‘pingsan’ beberapa saat kemudian sadar kembali, lalu berkata kepada Abu Bakar Ash Shiddiq : ‘Hai Abu Bakar, gembiralah pertolongan Allah telah datang kepadamu. Itulah Jibril memegang tali kekang dan menuntun kudanya!”
Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam keluar dari kemah mendatangi pasukannya dan mendorong mereka supaya lebih gigih menghancurkan musuh. Beliau berseru : “Demi Allah yang nyawa Muhammad berada di tanganNya, setiap orang yang sekarang ini berperang melawan musuh kemudian ia mati dalam keadaan tabah mengharapkan keridhoan Allah dan dalam keadaan terus maju pantang mundur; pasti akan dimasukkan Allah ke dalam surga!”
Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan, ketika pasukan musyrikin terus maju mendesak, Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi Wasallam berseru kepada pasukannya: “Siaplah memasuki surga seluas langit dan bumi!” Umair bin Al Humam Al Anshari menyahut : “Ya Rasulullah, surga seluas langit dan bumi?!” Beliau menjawab : “Ya, benar!” “Sungguh indah…sungguh indah!, kata Umair. Rasulullah bertanya : “Apa yang mendorongmu berkata demikian?” Umair menjawab : “Ya Rasulullah! Demi Allah, aku mengatakan itu karena aku ingin menjadi penghuninya!” Beliau menyahut : “Engkau termasuk orang yang akan menghuninya!”. Mendengar jawaban itu, Umair segera mengeluarkan kurma bekalnya dari dalam kantong. Setelah memakan beberapa butir, ia berkata: “Kalau aku hidup sampai menghabiskan semua kurma ini, terlalu lama…!” Ia lalu membuang semua sisa kurmanya, lalu maju menyerang musuh. Umair terus merangsek maju menyerang pasukan kufar hingga gugur.
Tentara Malaikat
Ketika perang berkecamuk, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan janjiNya dengan memberikan pertolongan kepada kaum muslimin, berupa tentara malaikat.
Dalam QS. Al Anfal ayat 9 , artinya : “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut". dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Dalam QS. Ali Imran ayat 123-126, artinya : ”Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu menjadi orang yang bersyukur. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mu’min, ‘Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)? Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.’ Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”.
Kemenangan di Tangan Kaum Muslimin
Dalam QS. Al Anfal ayat 9 , artinya : “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut". dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Dalam QS. Ali Imran ayat 123-126, artinya : ”Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu menjadi orang yang bersyukur. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang Mu’min, ‘Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)? Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.’ Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”.
Kemenangan di Tangan Kaum Muslimin
Akhirnya sisa-sisa pasukan musyrikin lari tunggang-langgang. Mereka menderita kekalahan hebat dan kaum Muslimin mendapatkan kemenangan gemilang. Perang Badr menjadi perang yang menentukan antara pasukan al-Haq dengan pasukan al-Bathil dan menjadi bukti bahwa kedzaliman pasti akan sirna dan al-Haq pasti akan berjaya.
Kaum Muslimin dengan wajah berseri-seri melihat langit dan bumi tertawa kegirangan. Kemenangan gemilang pada Perang Badr menjadi sesuatu yang indah untuk mereka kenang dan membuat mereka ‘hidup’ kembali, memulihkan cita harapan dan harga diri serta membebaskan mereka dari belenggu yang berat.
Perang Badr Berakhir
Kaum Muslimin dengan wajah berseri-seri melihat langit dan bumi tertawa kegirangan. Kemenangan gemilang pada Perang Badr menjadi sesuatu yang indah untuk mereka kenang dan membuat mereka ‘hidup’ kembali, memulihkan cita harapan dan harga diri serta membebaskan mereka dari belenggu yang berat.
Perang Badr Berakhir
Peperangan Badr meninggalkan kaum Muslimin yang gugur sebagai syuhada sebanyak empat belas orang. Mereka mendapat karunia rahmat Ilahi berangkat ke alam tertinggi. Sebaliknya di pihak musyrikin sebanyak tujuh puluh orang tokoh mereka binasa dalam kekafiran. Tujuh puluh lainnya jatuh sebagai tawanan kaum Muslimin.
Haritsah bin Suraqoh gugur dalam perang Badar terkena sebuah anak panah nyasar, di saat ia sedang mengamati jalannya peperangan. Seusai perang ibunya datang menghadap Rasulullah, lalu berkata : “Ya Rasulullah, beritahukan saya bagaimana keadaan Haritsah ? Kalau ia berada dalam surga, saya bisa sabar dan tabah, tetapi kalau tidak, maka hendaklah Allah melihat apa yang saya perbuat!” Rasulullah menjawab : “Celakalah engkau, apakah engkau masih meratapinya? Di sana tersedia delapan surga dan anakmu mendapat surga firdaus yang paling tinggi!”. Kalau orang yang terkena anak panah nyasar saja mendapat imbalan demikian besarnya, apalagi orang-orang yang terjun langsung menyabung nyawa dalam medan jihad di Perang Badr. Subhanalloh!
Rasulullah bersama kaum Muslimin akhirnya pulang ke Madinah dengan kemenangan yang gemilang dan keimanan yang bertambah kokoh. Mereka juga membawa sejumlah tawanan dan sejumlah ghanimah. Beliau kemudian mengutus Abdullah bin Rawahah dan Zaid bin Haritsah untuk mengumumkan berita kemenangan gemilang tersebut kepada seluruh kaum Muslimin di Madinah. Beliau dan para sahabatnya telah berada di medan jihad Perang Badr selama tiga hari penuh, berjuang dengan penuh keberanian dalam pertarungan menentukan masa depan Islam. Dan, ingat, kejadian tersebut meletus pada tanggal tujuh belas bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Sungguh, peristiwa Perang Badr memang pantas untuk disebut sebagai sebuah kenangan manis di bulan Ramadhan. Wallahu a’lam .
Haritsah bin Suraqoh gugur dalam perang Badar terkena sebuah anak panah nyasar, di saat ia sedang mengamati jalannya peperangan. Seusai perang ibunya datang menghadap Rasulullah, lalu berkata : “Ya Rasulullah, beritahukan saya bagaimana keadaan Haritsah ? Kalau ia berada dalam surga, saya bisa sabar dan tabah, tetapi kalau tidak, maka hendaklah Allah melihat apa yang saya perbuat!” Rasulullah menjawab : “Celakalah engkau, apakah engkau masih meratapinya? Di sana tersedia delapan surga dan anakmu mendapat surga firdaus yang paling tinggi!”. Kalau orang yang terkena anak panah nyasar saja mendapat imbalan demikian besarnya, apalagi orang-orang yang terjun langsung menyabung nyawa dalam medan jihad di Perang Badr. Subhanalloh!
Rasulullah bersama kaum Muslimin akhirnya pulang ke Madinah dengan kemenangan yang gemilang dan keimanan yang bertambah kokoh. Mereka juga membawa sejumlah tawanan dan sejumlah ghanimah. Beliau kemudian mengutus Abdullah bin Rawahah dan Zaid bin Haritsah untuk mengumumkan berita kemenangan gemilang tersebut kepada seluruh kaum Muslimin di Madinah. Beliau dan para sahabatnya telah berada di medan jihad Perang Badr selama tiga hari penuh, berjuang dengan penuh keberanian dalam pertarungan menentukan masa depan Islam. Dan, ingat, kejadian tersebut meletus pada tanggal tujuh belas bulan Ramadhan tahun kedua Hijriyah. Sungguh, peristiwa Perang Badr memang pantas untuk disebut sebagai sebuah kenangan manis di bulan Ramadhan. Wallahu a’lam .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar