Dalam kehidupan dengan tuntunan
Islam, kita tentu tahu bagaimana anjuran agama Islam dalam menyambut tamu. Iya
kan? Kita juga tahu bagaimana mempersiapkan kedatangannya dalam rangka
memuliakan dan melayaninya secara baik. Dalam menyambutnya, kita akan berusaha
memperindah pemandangan yang ada di rumah, mengumpulkan seluruh keluarga dan
menyiapkan berbagai macam hidangan. Terlebih lagi jika tamu tersebut adalah
tamu yang sangat kita hormati.
Nah, di depan kita bersama,
beberapa hari ke depan, tamu besar nan agung akan datang menghampiri kita semua.
Siapa dia? Tentunya, dia bukan pejabat tinggi. Bukan pula raja. Juga bukan
seorang kaya raya. Namun dia adalah tamu yang lebih agung dari itu semua. Dia
adalah bulan suci Ramadhan.
Begitulah
pertanyaan yang harus hadir dalam benak seorang muslim. Sebagai orang beriman, seharusnya
kita tidak lalai dalam menyambutnya, apalagi saat dia telah benar-benar hadir
dalam hari-hari kehidupan kita kelak. Ingatlah, hari-harinya adalah musim
ketaatan. Menyia-nyiakannya adalah kerugian yang termata besar. Padahal Allah I menyuruh kita untuk
berlomba-lomba dalam menyambut dan mengisinya, dalam firmanNya, “dan untuk
yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Muthaffifin : 26) .
Berikut beberapa poin yang mesti
diperhatikan untuk menyambut kedatangan tamu yang mulia. Semoga Allah I senantiasa memberikan
taufiqNya.
1. Berdo’a. Hendaknya kita banyak berdoa agar Allah I mempertemukan
kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan kuat, serta dalam keadaan
bersemangat beribadah kepada Allah I,
seperti ibadah puasa, shalat, dzikir, istighfar, sedekah dan lainnya.
Demikianlah generasi terbaik terdahulu (as-salaf ash-shalih), mereka senantiasa berdoa agar Allah I menyampaikan
mereka pada bulan Ramadhan dan menerima amal-amal mereka, bahkan sejak enam
bulan sebelumnya.
Sehingga, jika nanti telah tampak hilal bulan Ramadhan, kita
disunnahkan untuk berdoa kepada Allah I,
dengan doa : “Allahumma ahillahu 'alayna
bil-amni wal-imaani was-salaamati wal-islaami wat-tawfiiqi limaa tuhibbu wa
tardhaa, Rabbana wa rabbukallah” (Ya Allah, terbitkanlah bulan sabit itu
untuk kami dengan aman dan dalam keimanan, dengan penuh keselamatan dan dalam
keislaman, dengan taufik agar kami melakukan yang disukai dan diridhai oleh
Rabbku dan Rabbmu, yaitu Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ad-Darimi,
dishahihkan oleh Ibnu Hayyan).
Sungguh, semua amal shalih yang kita lakukan
semata-mata hanyalah karena kasih sayang dan pertolongan dari Allah I.
2. Bersyukur kepada Allah I dan memuji-Nya atas dipertemukannya dengan
bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi rahimahullah
berkata dalam kitabnya Al-Adzkaar,
“Ketahuilah, dianjurkan bagi siapa saja yang mendapatkan suatu nikmat atau
dihindarkan dari kemurkaan Allah, untuk bersujud syukur kepada Allah Ta’ala,
atau memuji Allah (sesuai dengan apa yg telah diberikan-Nya).”
Dan kita pun sadar bahwa di antara nikmat
terbesar yang diberikan Allah I kepada
seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan
ketaatan. Maka, ketika Ramadhan telah tiba dan kita dalam kondisi yang aman,
sehat wal afiat, dan mampu melaksanakan segala bentuk ketaatan, maka kita wajib
memuji Allah I sebagai bentuk
syukur kita kepadaNya.
3. Bergembira dan berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan. Telah
ada contoh dari Rasulullah r
bahwa beliau r
dahulu memberi berita gembira kepada para sahabatnya dengan kedatangan
Ramadhan. Beliau r
bersabda, “Telah datang pada kalian bulan
Ramadhan, bulan Ramadhan bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas
kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga
serta ditutup pintu-pintu neraka” (HR. Ahmad).
Dan demikian pula as-salaf
ash-shalih dari kalangan sahabat dan tabi’in, mereka sangat perhatian
dengan bulan Ramadhan dan bergembira dengan kedatangannya. Maka kebahagiaan
manakah yang lebih agung dibandingkan dengan berita dekatnya bulan Ramadhan
sebagai momen untuk melakukan kebaikan serta diturunkannya rahmat?
4. Merancang berbagai program agar memperoleh kebaikan yang banyak
di bulan Ramadhan. Untuk urusan dunia, sudah lumrah bagi orang-orang untuk
membuat perencanaan hidup yang detail. Tetapi tidak dengan urusan akhiratnya.
Masih sedikit di antara umat Islam yang telah memiliki rencana program yang
tertata rapi untuk program akhirantnya, termasuk selama Bulan Ramadhan. Yang
ada, umumnya berjalan apa adanya.
Hal ini tentu harus diperbaiki. Tidak selayaknya di bulan yang
penuh kemuliaan ini kita masih menjalaninya dengan gaya hidup lama yang mungkin
masih belum tertata rapi dalam upaya peningkatan iman dan takwa. Upaya itu bisa
dengan dilakukan dengan program membaca al-Qur’an berikut terjemah dan tafsirnya,
programa hafalan al-Qur’an, melaksanakan qiyamul-lail, bersedekah setiap hari,
atau melakukan berbagai macam amal shalih lainnya.
Apabila tidak memiliki perencanaan Ramadhan, boleh jadi Ramadhan
akan dilalui tanpa makna. Tentu ini satu kerugian besar. Rasulullah r
senantiasa qiyamul-lail selama bulan Ramadhan. Bahkan tidak pernah alpa membaca
Al-Qur’an. Imam Syafi’i selalu menghatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali setiap
Ramadhan.
Jadi, apabila kita benar-benar bahagia atau bergembira dalam
menyambut Ramadhan, sudah semestinya kita memiliki program amal ibadah yang
akan kita lakukan dengan penuh cinta selama bulan suci Ramadhan.
Jika benar-benar komitmen melaksanakan perencanaan dengan baik,
maka akan sangat mungkin karakter seorang muslim yang berpuasa akan benar-benar
sampai pada tujuan puasa itu sendiri, yaitu menjadi orang yang bertakwa. Sebab
merubah tradisi itu bukan hal mudah, kecuali kita bertemu dengan bulan penuh
berkah seperti saat ini.
Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk melakukan perubahan diri
dalam segala hal. Mulai dari perubahan mindset
dari sekuler ke Islami, dari peragu menjadi penuh keyakinan, dan dari malas
beribadah menjadi ketagihan dalam beribadah. Mengapa demikian, karena Bulan
Ramadhan memberikan ruang untuk itu semua yaitu dengan adanya sunnah untuk
melakukan I’tikaf di masjid. Jadikan ia menjadi salah satu program! Insya Allah
perubahan ke arah yang lebih baik dalam segala hal dapat diwujudkan dengan
lebih baik lagi. Rasulullah sama sekali tidak pernah melewatkan Ramadhan
kecuali dengan I’tikaf. “Nabi r melakukan iktikaf di sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan sampai beliau meninggal. Kemudian, istri-istrinya yang
melakukan I’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari-Muslim).
5. Bertekad dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh pahala di
bulan Ramadhan serta menyusun waktunya (membuat jadwal) untuk beramal shalih. Barangsiapa
yang menepati janjinya pada Allah maka Allah pun akan menepati janji-Nya serta
menolongnya untuk taat dan memudahkan baginya jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa
Jalla berfirman, “Maka seandainya mereka
benar-benar beriman pada Allah, maka sungguh itu lebih baik bagi mereka.” (QS.
Muhammad:21).
6. Berbekal ilmu dan pemahaman terhadap hukum-hukum di bulan
Ramadhan. “Menuntut
ilmu wajib bagi setiap muslim”, demikian pesan nabi kita, Muhammad r. Puasa Ramadhan adalah sebuah
kewajiban bagi setiap mukmin yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Maka, hukum
untuk mengilmuinya pun menjadi wajib.
Wajib bagi
seorang hamba untuk mengetahui syarat-syaratnya, rukun-rukunya, pembatal-pembatalnya,
dan lainnya sebelum Ramadhan datang, agar puasanya benar dan diterima oleh
Allah I. Hendaknya kita belajar dan bertanya kepada para ahli ilmu. Allah Iberfirman,
artinya : “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu,
jika kamu tiada mengetahui” (QS.Al-Anbiya’
: 7).
Bekal ini amat penting agar ibadah
kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata
: “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat
banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.". Tidak tahu
akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang
disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu
jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, bisa jadi hanya mendapatkan
lapar dan dahaga saja saat puasa.
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftah Daris
Sa’adah berkata, “Orang yang beribadah tanpa adanya ilmu bagai orang
yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang demikian
akan mendapatkan kesulitan dan susah untuk selamat. Jika pun ia bisa
selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja
tidak terpuji bahkan pantas untuk medapat celaan”.
7. Bertekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejelekan, serta
bertaubat dengan sungguh-sungguh dari seluruh dosa, berhenti melakukannya serta
tidak mengulanginya lagi. Mengapa? Karena bulan Ramadhan adalah bulan taubat.
Barangsiapa yang tidak bertaubat di dalamnya, maka kapankah lagi ia akan
bertaubat? Allah Ta’ala berfirman, “Dan
bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar
kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31).
Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar As-Syinqity hafidzahullah pernah ditanya, “Wahai
Syaikh, dengan amalan apa Anda menasehati saya dalam menyongsong datangnya
musim ketaatan?“ Syaikh menjawab, “Sebaik-baik amalan yang dapat dilakukan
dalam menyongsong datangnya musim ketaatan adalah memperbanyak istighfar. Sebab
dosa akan menghalangi seseorang dari taufiq Allah (untuk melaksanakan ketaatan)”.
Begitulah, istighfar merupakan benteng pengaman yang kita untuk
kita dari adzab Allah I.
Ibnu Katsir rahimahullah
berkata, “Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu
memperbanyak istighfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan
urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya."
Ibnul Qayyim rahimahullah
pernah mengatakan, “Bila engkau ingin berdo'a, sementara waktu begitu sempit,
padahal di dalam dadamu dipenuhi oleh begitu banyak hajat (kebutuhan), maka
jadikan seluruh isi do'amu berupa permohonan maaf kepada Allah. Karena bila Dia
memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau
memintanya”.
8. Mempersiapkan jiwa dan ruhiyah
kita dengan bacaan dan penelaahan melalui buku serta artikel. Juga dengan
menghadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan puasa serta hukum dan
hikmahnya.
Begitu pula, untuk menyiapkan ruhiyah dalam
menyambutnya, dianjurkan untuk mulai membiasakan amalan-amalan yang akan
menghidupkan bulan ini, seperti memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban,
sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu
anha bahwa beliau r banyak berpuasa di bulan tersebut. Begitu juga para salaf
dahulu sudah mulai memperbanyak bacaan al-qur’an sejak bulan Sya’ban. Salamah
bin Kuhail rahimahullah berkata, “Dahulu kami
menyebut bulan Sya’ban sebagai bulan para pembaca Al-Qur’an”. Amru bin Qais rahimahullah ketika masuk bulan Sya’ban beliau
menutup tokonya dan menyibukkan dengan membaca al-qur’an. Inilah cara para
salaf dahulu menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini. Hal ini semua menjadi
penting karena jiwa manusia sangat dipengaruhi dengan kebiasan-kebiasannya.
9. Hindarilah berleha-leha. Umumnya masih banyak di antara umat
Islam yang lalai dalam mengisi bulan suci. Ada yang masih hobi menonton TV,
bahkan ngerumpi, makin sibuk dengan pekerjaan, bahkan tidak jarang justru
semakin jauh dari masjid dan al-Qur’an. Atas nama lebaran, orang seringkali
salah kaprah dengan Ramadhan, terutama pada seminggu sebelum Ramadhan berakhir.
Masjid mulai sepi, semarak Ramadhan pun mulai pudar. Padahal pada saat-saat
seperti itulah Rasulullah r
justru semakin memperkuat upayanya untuk dapat mencapai target dari tujuan
utama puasa itu sendiri. Oleh karena itu jangan sia-siakan momentum berharga
ini begitu saja. Jangan karena sedikit lemes kemudian banyak tidur atau justru
melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat.
Jika dengan bulan Ramadhan saja kita masih tidak tergerak untuk
bersegera dalam kebaikan, nikmat besar manalagi yang akan mampu mengubah nasib
kita?
Bersegeralah wahai umat Islam. Ramadhan adalah media terbaik
meraih surga. semoga Allah I menunjuki
kita kepada sikap terbaik dalam menyambut bulan berkah. Kemudian memberikan
taufiqNya kepada kita untuk bisa memakmurkan Ramadhan dengan semestinya
sehingga saat keluar darinya terampuni pula semua dosa-dosa kita. Amin. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar