Juni 11, 2015

Menyambut Ramadhan

Dalam kehidupan dengan tuntunan Islam, kita tentu tahu bagaimana anjuran agama Islam dalam menyambut tamu. Iya kan? Kita juga tahu bagaimana mempersiapkan kedatangannya dalam rangka memuliakan dan melayaninya secara baik. Dalam menyambutnya, kita akan berusaha memperindah pemandangan yang ada di rumah, mengumpulkan seluruh keluarga dan menyiapkan berbagai macam hidangan. Terlebih lagi jika tamu tersebut adalah tamu yang sangat kita hormati.

Nah, di depan kita bersama, beberapa hari ke depan, tamu besar nan agung akan datang menghampiri kita semua. Siapa dia? Tentunya, dia bukan pejabat tinggi. Bukan pula raja. Juga bukan seorang kaya raya. Namun dia adalah tamu yang lebih agung dari itu semua. Dia adalah bulan suci Ramadhan.

Bagaimanakah seharusnya kita menyambutnya?


Begitulah pertanyaan yang harus hadir dalam benak seorang muslim. Sebagai orang beriman, seharusnya kita tidak lalai dalam menyambutnya, apalagi saat dia telah benar-benar hadir dalam hari-hari kehidupan kita kelak. Ingatlah, hari-harinya adalah musim ketaatan. Menyia-nyiakannya adalah kerugian yang termata besar. Padahal Allah I menyuruh kita untuk berlomba-lomba dalam menyambut dan mengisinya, dalam firmanNya, “dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Muthaffifin : 26) .

Berikut beberapa poin yang mesti diperhatikan untuk menyambut kedatangan tamu yang mulia. Semoga Allah I  senantiasa memberikan taufiqNya.
1. Berdo’a. Hendaknya kita banyak berdoa agar Allah I mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan kuat, serta dalam keadaan bersemangat beribadah kepada Allah I, seperti ibadah puasa, shalat, dzikir, istighfar, sedekah dan lainnya.

Demikianlah generasi terbaik terdahulu (as-salaf ash-shalih), mereka senantiasa berdoa agar Allah I menyampaikan mereka pada bulan Ramadhan dan menerima amal-amal mereka, bahkan sejak enam bulan sebelumnya.

Sehingga, jika nanti telah tampak hilal bulan Ramadhan, kita disunnahkan untuk berdoa kepada Allah I, dengan doa : “Allahumma ahillahu 'alayna bil-amni wal-imaani was-salaamati wal-islaami wat-tawfiiqi limaa tuhibbu wa tardhaa, Rabbana wa rabbukallah” (Ya Allah, terbitkanlah bulan sabit itu untuk kami dengan aman dan dalam keimanan, dengan penuh keselamatan dan dalam keislaman, dengan taufik agar kami melakukan yang disukai dan diridhai oleh Rabbku dan Rabbmu, yaitu Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ad-Darimi, dishahihkan oleh Ibnu Hayyan).

Sungguh, semua amal shalih yang kita lakukan semata-mata hanyalah karena kasih sayang dan pertolongan dari Allah I

2. Bersyukur kepada Allah I  dan memuji-Nya atas dipertemukannya dengan bulan Ramadhan. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Adzkaar, “Ketahuilah, dianjurkan bagi siapa saja yang mendapatkan suatu nikmat atau dihindarkan dari kemurkaan Allah, untuk bersujud syukur kepada Allah Ta’ala, atau memuji Allah (sesuai dengan apa yg telah diberikan-Nya).”

Dan kita pun sadar bahwa di antara nikmat terbesar yang diberikan Allah I  kepada seorang hamba adalah ketika dia diberikan kemampuan untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Maka, ketika Ramadhan telah tiba dan kita dalam kondisi yang aman, sehat wal afiat, dan mampu melaksanakan segala bentuk ketaatan, maka kita wajib memuji Allah I sebagai bentuk syukur kita kepadaNya.

3. Bergembira dan berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan. Telah ada contoh dari Rasulullah r bahwa beliau r dahulu memberi berita gembira kepada para sahabatnya dengan kedatangan Ramadhan. Beliau r bersabda, “Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan Ramadhan bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga serta ditutup pintu-pintu neraka” (HR. Ahmad).

Dan demikian pula as-salaf ash-shalih dari kalangan sahabat dan tabi’in, mereka sangat perhatian dengan bulan Ramadhan dan bergembira dengan kedatangannya. Maka kebahagiaan manakah yang lebih agung dibandingkan dengan berita dekatnya bulan Ramadhan sebagai momen untuk melakukan kebaikan serta diturunkannya rahmat?

4. Merancang berbagai program agar memperoleh kebaikan yang banyak di bulan Ramadhan. Untuk urusan dunia, sudah lumrah bagi orang-orang untuk membuat perencanaan hidup yang detail. Tetapi tidak dengan urusan akhiratnya. Masih sedikit di antara umat Islam yang telah memiliki rencana program yang tertata rapi untuk program akhirantnya, termasuk selama Bulan Ramadhan. Yang ada, umumnya berjalan apa adanya.

Hal ini tentu harus diperbaiki. Tidak selayaknya di bulan yang penuh kemuliaan ini kita masih menjalaninya dengan gaya hidup lama yang mungkin masih belum tertata rapi dalam upaya peningkatan iman dan takwa. Upaya itu bisa dengan dilakukan dengan program membaca al-Qur’an berikut terjemah dan tafsirnya, programa hafalan al-Qur’an, melaksanakan qiyamul-lail, bersedekah setiap hari, atau melakukan berbagai macam amal shalih lainnya.

Apabila tidak memiliki perencanaan Ramadhan, boleh jadi Ramadhan akan dilalui tanpa makna. Tentu ini satu kerugian besar. Rasulullah r senantiasa qiyamul-lail selama bulan Ramadhan. Bahkan tidak pernah alpa membaca Al-Qur’an. Imam Syafi’i selalu menghatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali setiap Ramadhan.

Jadi, apabila kita benar-benar bahagia atau bergembira dalam menyambut Ramadhan, sudah semestinya kita memiliki program amal ibadah yang akan kita lakukan dengan penuh cinta selama bulan suci Ramadhan.

Jika benar-benar komitmen melaksanakan perencanaan dengan baik, maka akan sangat mungkin karakter seorang muslim yang berpuasa akan benar-benar sampai pada tujuan puasa itu sendiri, yaitu menjadi orang yang bertakwa. Sebab merubah tradisi itu bukan hal mudah, kecuali kita bertemu dengan bulan penuh berkah seperti saat ini.

Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk melakukan perubahan diri dalam segala hal. Mulai dari perubahan mindset dari sekuler ke Islami, dari peragu menjadi penuh keyakinan, dan dari malas beribadah menjadi ketagihan dalam beribadah. Mengapa demikian, karena Bulan Ramadhan memberikan ruang untuk itu semua yaitu dengan adanya sunnah untuk melakukan I’tikaf di masjid. Jadikan ia menjadi salah satu program! Insya Allah perubahan ke arah yang lebih baik dalam segala hal dapat diwujudkan dengan lebih baik lagi. Rasulullah sama sekali tidak pernah melewatkan Ramadhan kecuali dengan I’tikaf. “Nabi r melakukan iktikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau meninggal. Kemudian, istri-istrinya yang melakukan I’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari-Muslim).

5. Bertekad dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh pahala di bulan Ramadhan serta menyusun waktunya (membuat jadwal) untuk beramal shalih. Barangsiapa yang menepati janjinya pada Allah maka Allah pun akan menepati janji-Nya serta menolongnya untuk taat dan memudahkan baginya jalan kebaikan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Maka seandainya mereka benar-benar beriman pada Allah, maka sungguh itu lebih baik bagi mereka.” (QS. Muhammad:21).

6. Berbekal ilmu dan pemahaman terhadap hukum-hukum di bulan Ramadhan. Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim”, demikian pesan nabi kita, Muhammad r. Puasa Ramadhan adalah sebuah kewajiban bagi setiap mukmin yang telah memenuhi syarat-syaratnya. Maka, hukum untuk mengilmuinya pun menjadi wajib.

Wajib bagi seorang hamba untuk mengetahui syarat-syaratnya, rukun-rukunya, pembatal-pembatalnya, dan lainnya sebelum Ramadhan datang, agar puasanya benar dan diterima oleh Allah I. Hendaknya kita belajar dan bertanya kepada para ahli ilmu. Allah Iberfirman, artinya : “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS.Al-Anbiya’ : 7).

Bekal ini amat penting agar ibadah kita menuai manfaat, berfaedah, dan tidak asal-asalan. Umar bin ‘Abdul ‘Aziz rahimahullah berkata : “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.". Tidak tahu akan hukum puasa, bisa jadi puasa kita rusak. Tidak tahu apa saja hal-hal yang disunnahkan saat puasa, kita bisa kehilangan pahala yang banyak. Tidak tahu jika maksiat bisa mengurangi pahala puasa, bisa jadi hanya mendapatkan  lapar dan dahaga saja saat puasa.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Miftah Daris Sa’adah berkata, “Orang yang beribadah tanpa adanya ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang demikian akan mendapatkan kesulitan dan susah untuk selamat. Jika pun ia bisa selamat,  namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak terpuji bahkan pantas untuk medapat celaan”.

7. Bertekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejelekan, serta bertaubat dengan sungguh-sungguh dari seluruh dosa, berhenti melakukannya serta tidak mengulanginya lagi. Mengapa? Karena bulan Ramadhan adalah bulan taubat. Barangsiapa yang tidak bertaubat di dalamnya, maka kapankah lagi ia akan bertaubat? Allah Ta’ala berfirman, “Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur: 31).

Syaikh Muhammad bin Muhammad Mukhtar As-Syinqity hafidzahullah pernah ditanya, “Wahai Syaikh, dengan amalan apa Anda menasehati saya dalam menyongsong datangnya musim ketaatan?“ Syaikh menjawab, “Sebaik-baik amalan yang dapat dilakukan dalam menyongsong datangnya musim ketaatan adalah memperbanyak istighfar. Sebab dosa akan menghalangi seseorang dari taufiq Allah (untuk melaksanakan ketaatan)”.

Begitulah, istighfar merupakan benteng pengaman yang kita untuk kita dari adzab Allah I.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menghiasi dirinya dengan amalan ini, yaitu memperbanyak istighfar, maka Allah akan mempermudah rezekinya, memudahkan urusannya dan menjaga kekuatan jiwa dan raganya."

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, “Bila engkau ingin berdo'a, sementara waktu begitu sempit, padahal di dalam dadamu dipenuhi oleh begitu banyak hajat (kebutuhan), maka jadikan seluruh isi do'amu berupa permohonan maaf kepada Allah. Karena bila Dia memaafkanmu, maka semua keperluanmu akan dipenuhi oleh-Nya tanpa engkau memintanya”.

8. Mempersiapkan jiwa dan ruhiyah kita dengan bacaan dan penelaahan melalui buku serta artikel. Juga dengan menghadiri majelis ilmu yang membahas tentang keutamaan puasa serta hukum dan hikmahnya.

Begitu pula, untuk menyiapkan ruhiyah dalam menyambutnya, dianjurkan untuk mulai membiasakan amalan-amalan yang akan menghidupkan bulan ini, seperti memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu anha bahwa beliau r banyak berpuasa di bulan tersebut. Begitu juga para salaf dahulu sudah mulai memperbanyak bacaan al-qur’an sejak bulan Sya’ban. Salamah bin Kuhail rahimahullah berkata,  “Dahulu kami menyebut bulan Sya’ban sebagai bulan para pembaca Al-Qur’an”. Amru bin Qais rahimahullah ketika masuk bulan Sya’ban beliau menutup tokonya dan menyibukkan dengan membaca al-qur’an. Inilah cara para salaf dahulu menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini. Hal ini semua menjadi penting karena jiwa manusia sangat dipengaruhi dengan kebiasan-kebiasannya.

9. Hindarilah berleha-leha. Umumnya masih banyak di antara umat Islam yang lalai dalam mengisi bulan suci. Ada yang masih hobi menonton TV, bahkan ngerumpi, makin sibuk dengan pekerjaan, bahkan tidak jarang justru semakin jauh dari masjid dan al-Qur’an. Atas nama lebaran, orang seringkali salah kaprah dengan Ramadhan, terutama pada seminggu sebelum Ramadhan berakhir. Masjid mulai sepi, semarak Ramadhan pun mulai pudar. Padahal pada saat-saat seperti itulah Rasulullah r justru semakin memperkuat upayanya untuk dapat mencapai target dari tujuan utama puasa itu sendiri. Oleh karena itu jangan sia-siakan momentum berharga ini begitu saja. Jangan karena sedikit lemes kemudian banyak tidur atau justru melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat.

Jika dengan bulan Ramadhan saja kita masih tidak tergerak untuk bersegera dalam kebaikan, nikmat besar manalagi yang akan mampu mengubah nasib kita?

Bersegeralah wahai umat Islam. Ramadhan adalah media terbaik meraih surga. semoga Allah I  menunjuki kita kepada sikap terbaik dalam menyambut bulan berkah. Kemudian memberikan taufiqNya kepada kita untuk bisa memakmurkan Ramadhan dengan semestinya sehingga saat keluar darinya terampuni pula semua dosa-dosa kita. Amin.   Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...