November 11, 2010

Jangan Lewatkan : 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Di antara keutamaan dan karunia yang Allah  berikan kepada makhluk-Nya adalah dijadikannya musim (masa-masa tertentu) bagi hamba-hamba-Nya yang shalih untuk memperbanyak amal shalih di dalamnya.

Tak terasa, musim panen kemuliaan itu kembali menghampiri kita. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah kembali datang dengan izin Rabb kita yang mulia, menjanjikan berbagai kemuliaan yang bisa kita raih di dalamnya.

Allah   berfirman :
وَالفَجرِ وَلَيَالٍ عَشرٍ
artinya : “Demi Fajar, dan malam-malam yang sepuluh.”  (QS. Al Fajr: 1-2)

Ibnu Katsir Rahimahullah berkata : Yang dimaksud adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzul Hijjah”. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Az-Zubair, Mujahid dan ulama salaf dan khalaf lainnya.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma beliau berkata : Rasulullah  bersabda : “Tidak ada hari dimana amal sholeh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini,  yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah. Mereka (para sahabat) bertanya : Tidak juga jihad fi sabilillah (lebih utama dari itu) ?, beliau bersabda :  Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwanya dan hartanya dan tidak kembali  dengan sesuatupun” (HR. Bukhari).

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma berkata, Rasulullah   bersabda : “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak ada amal perbuatan yang lebih dicintai Allah selain pada sepuluh hari itu. Maka perbanyaklah pada hari-hari tersebut Tahlil, Takbir dan Tahmid “ (HR. Imam Ahmad dan Ath-Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir).

Mungkin sebagian kita bertanya, manakah sepuluh hari yang lebih afdhol, apakah sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan atau sepuluh hari awal di bulan Dzulhijjah?

Jawaban yang paling bijak, Insya Allah, jawaban para ulama Rahimahumullah yang menyatakan : “Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang paling utama, sedangkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama ”.

Amalan – Amalan yang Disunnahkan

[1]. Melaksanakan Ibadah Haji Dan Umrah

Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, di antaranya sabda Nabi  : artinya : ”Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga”. (HR. Bukhari dan Muslim).

[2]. Berpuasa Selama Hari-Hari Tersebut atau Pada Sebagiannya, Terutama Pada Hari Arafah.

Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yang paling utama, dan yang dipilih Allah  untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi : Artinya : Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku lah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku”.

Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri  , Rasulullah  bersabda, artinya : ”Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Rasulullah  bersabda ketika ditanya tentang puasa ‘Arafah :
يكفر السنة الماضية والباقية
artinya : “(Puasa Arafah tersebut) menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang.” (HR. Muslim)

Akan tetapi barangsiapa yang berada di Arafah -yakni sedang beribadah haji-, maka tidak disunnahkan baginya berpuasa karena Nabi   melakukan wuquf di Arafah dalam keadaan berbuka (tidak berpuasa).

[3]. Memperbanyak Takbir Dan Dzikir Pada Hari - Hari Tersebut.

Sebagaimana firman Allah  , artinya : ”…. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan …” [QS. Al-Hajj : 28].

Para ahli tafsir menafsirkannya (hari-hari ditentukan) dengan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma :
فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد
artinya : ”Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil, takbir dan tahmid” [HR. Ahmad].

Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhum keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orangpun mengikuti takbirnya.

Dianjurkan untuk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar, rumah, jalan, masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah  , artinya : ”Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu …”. [QS. Al-Baqarah : 185].

Perlu diketahui bahwa takbir di sini terbagi menjadi : Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad.

Takbir muthlaq, dilakukan pada setiap saat, siang ataupun malam sampai shalat ied. Sedangkan Takbir muqayyad, yaitu takbir yang dilakukan setiap selesai sholat fardhu dari sejak pagi hari ‘Arafah setelah shalat Subuh (9 Dzulhijjah) sampai shalat Ashar akhir hari Tasyriq (13 Dzul Hijjah).

Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dengan satu suara (koor). Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a, kecuali karena tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain.

[4]. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat Dan Dosa.

Ketahuilah, maksiat adalah penyebab jauhnya hamba dari Allah  . Sedangkan keta’atan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah  kepada seorang hamba.  Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah  , bahwasanya Nabi  bersabda, artinya : ”Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [HR. Bukhari dan Muslim].

[5]. Banyak Beramal Shalih.

Berupa ibadah sunnah seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah  daripada amal ibadah pada hari lainnya, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya.

[6]. Berqurban Pada Hari Raya Qurban Dan Hari - Hari Tasyriq.

Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, yakni ketika Allah   menebus putranya dengan sembelihan yang agung. Diriwayatkan dari Anas   ia berkata : “Nabi    berqurban dengan dua ekor domba jantan yang keduanya berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau    menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri sambil membaca basmalah dan bertakbir” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di antara sunnah Nabi kita yang mulia  berkaitan dengan qurban, yakni dilarangnya mencabut atau memotong rambut dan kuku bagi orang yang hendak berkurban.

Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha bahwa Nabi   bersabda, artinya : ”Jika kamu melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berqurban, maka hendaklah ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya”.(HR. Muslim).

Larangan ini, menurut zhahirnya, hanya dikhususkan bagi orang yang berqurban saja, tidak termasuk istri dan anak-anaknya, kecuali jika masing-masing dari mereka berqurban.

[7]. Melaksanakan Shalat Iedul Adha Dan Mendengarkan Khutbahnya.

Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan ; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti ; nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukan selama sepuluh hari.

[8]. Selain Hal-Hal Yang Telah Disebutkan di atas.

Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah  , melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah  melimpahkan taufik dan hidayahNya, sehingga kita dapat mengoptimalkan waktu – waktu mulia ini. Dapat mengisinya dengan amal – amal shalih. Maka, jangan lewatkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah berlalu begitu saja !

Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...