November 11, 2009

Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Ikhtilaf [4]

PENUTUP

Setelah kita membaca penjelasan para ulama mengenai kaidah ¡Èkebenaran itu hanya satu¡É. Timbul pertanyaan : Bagaimana kita dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah? Dan bagaimana kita dapat mengamalkan kebenaran tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan ini perlu banyak lembaran, adapun secara ringkasnya adalah :

Pertama : Ikhlash di dalam mencari kebenaran. Dengan modal ikhlash maka syaithan tidak berdaya dalam upayanya menyesatkan manusia.

Kedua : Ilmu yang benar.

Imam Syafi’i rahimahullah (wafat tahuun 204 H) berkata[30] : Seluruh ilmu selain Al Qur’an adalah melalaikan kecuali hadits dan ilmu fiqh dalam dien ini. Ilmu itu adalah yang ada padanya ucapan haddatsana sedangkan selain itu merupakan bisikan syaithan.

Ibnu Qayim Al Jauziyah rahimahullah berkata dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in : lmu itu adalah firman Allah, sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan ucapan para shahabat.

Imam Al Auza’i rahimahullah (wafat tahun 158 H) berkata[31] : Haruslah engkau mengikuti jejak orang-orang salaf meskipun manusia menentangmu. Dan hati-hatilah engkau dari pemikikran-pemikiran manusia meskipun mereka menghiasinya dengan kata-kata yang manis kepadamu.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam muqadimah tafsirnya : Maka yang semestinya dilakukan dalam menceritakan perbedaan pendapat yaitu engkau menguasai pendapat-pendapat yang ada. Lalu engkau sebutkan yang benar dan engkau salahkan yang salah. Lalu engkau sebutkan faedah khilaf dan buahnya agar perselisihan dan perbedaan pendapat itu tidak berkepanjangan dalam hal-hal yang tidak bermanfaat, sehingga engkau sibuk dengan hal tadi dan menyebabkan terbengkalainya mana yang lebih penting dari yang penting. Sedangkan orang-orang yang menceritakan perbedaan pendapat dalam satu masalah padahal ia belum menguasai pendapat-pendapat ulama yang ada, maka hal itu kurang, karena boleh jadi pendapat yang nanti ia tinggalkan adalah pendapat yang benar. Atau seseorang yang hanya menceritakan perbedaan pendapat yang ada, kemudian dibiarkannya begitu saja tanpa menyebutkan mana yang benar maka hal itupun kurang. Begitu pula orang yang membenarkan pendapat yang salah dengan sengaja, berarti ia telah berdusta. Apabila hal itu dilakukan dengan tidak sengaja yaitu karena kejahilan maka dia telah berbuat kesalahan [32] .

Untuk dapat memiliki ilmu yang dalam haruslah sabar karena dibutuhkan waktu yang lama. Imam Syafi’i rahimahullah berkata : Saudaraku, engkau akan tidak memperoleh ilmu kecuali engkau memiliki enam perkara. Saya akan beritahu kepadamu keenamnya dengan jelas, yaitu : Kecerdasan, perhatian, kesungguhan, dan kecukupan (materi) dan di dampingi oleh guru serta menempuh waktu yang lama.

Ketiga : Mengendalikan hawa nafsu agar tunduk kepada kebenaran.

Hal ini sangat sulit, terlebih bagi jiwa manusia yang selalu mengajak kepada keburukan. Maka Allah subhanahu wa ta'ala menjanjikan surga bagi orang yang takut kepadaNya dan menahan hawa nafsunya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya : “Adapaun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An Nazi’at : 40-41) .

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami bahwa yang bathil itu bathil dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.

Semoga shalawat dan salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, dan para shahabatnya. Amin.

MARAJI’ :

1.Mushaf Al Qur’anul Karim dan terjemahannya.

2.Diwan Al Imam Asy Syafi’i, Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy Syafi’I rahimahullah (wafat tahuun 204 H), Dar el Fikr, tahun 1409 H / 1988 M.

3.Dar’ul Irtiyab ¡Æan Hadits Ma Ana ¡ÆAlaihi Al Yauma wal Ashab, Syaikh Salim bin Ied Al Hilali, Dar Ar Rayah, Riyadh, cet. Pertama tahun 1410 H / 1990 M)

4.Fathul Bari, Syarah Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah (wafat tahuun 852 H), tahqiq Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, Darul Fikr, Beirut, tahun 1414 H / 1993 M.

5.Ilmu Ushulil Bida’, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid Al Halabi Al Atsari, Dar Ar Rayah, Riyadh, cet. pertama, 1413 H / 1992 M.

6.Iqtidla’ As Shirath Al Mustaqim li Mukhalafati Ashabil Jahim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, tahqiq Doktor Nashir bin Abdul Karim Al Aql, Maktabah Ar Rusyd, Riyadh.

7.Irwa’ul Ghalil, Syaikh Muhammad Nashirudin Al Albani, Al Maktab Al Islami, cet. pertama, tahun 1399 H / 1979 M.

8.Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadlih, Al Imam Ibnu Abdil Bar rahimahullah (wafat tahun 463 H), Al Maktabah As Salafiyah, Al Madinah An Nabawiyah, cet. kedua, tahun 1388 H / 1968 M.

9.Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

10.Shahih Al Bukhari, Darul Fikr, tahuun 1414 H / 1994 M.

11.Shifatu Shalat Nabi shalallahu \\\'alaihi wa sallam, Syaikh Nashirudin Al Albani, Maktabah Al Ma’arif, Riyadh, cetakan pertama, tahun 1412 H / 1992 M.

12.Tafsir Al Qur’an Al ¡ÆAdhim, Al Imam Ibnu Katsir (wafat th. 774 H), Maktabah Darus Salam.


Footnote :
[30] Diwan Al Imam As Syafi’I hal. 117.
[31] Atsar riwayat Al Imam Al Khatib Al Baghdadi dalam kitabnya Syarafu Ashabil Hadits hal. 7, Syaikh Ali Hasan mengatakan : ¡ÈDengan sanad yang shahih¡É (Lihat Ilmu Ushulil Bida’, hal. 277)
[32] Tafsir Ibnu Katsir juz 1, bagian muqaddimah hal. 5.


[Sumber : assunnah.mine.nu]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...