Februari 18, 2014

Idolisasi yang Tidak Islami

Gegap gempita dunia hiburan Indonesia terus menjadi trend dan komoditas industri yang produktif. Berbagai ajang yang spektakuler telah menyedot perhatian sebagaian besar penduduk negeri ini untuk menikmati sisi entertain hingga berpartisipasi aktif sebagai lakon entertain-nya. Kalangan muda-mudi muslim lagi-lagi menjadi pelanggan tetapnya. Di antaranya yaitu ajang pencarian idola dan bakat dengan model reality show. Sebut saja, Indonesian Idol, Academia, dan lainnya, di mana lisensi pelaksanaan ajang tersebut (Indonesian Idol) diperoleh dari Amerika Serikat melalui Fremantle Media.

Ajang seperti Indonesian Idol ini sendiri telah menyebar hampir ke semua negara. Di Arab sendiri, acara ini telah dilarang karena memakai nama “Arab Idol”. Kaum muslimin di sana melarang acara ini ditayangkan di televisi karena memakai kata “Idol”, yang berarti berhala.


Ajang Kapitalisasi dan Hegemoni Budaya Barat

Kemiskinan dan kehidupan dengan penuh keterbatasan menjadi hal yang tidak akan dilewatkan oleh para kapitalis untuk mencari keuntungan berlipat.

Fenomena menarik di ajang-ajang seperti ini adalah fenomena derai air mata dari para peserta, penonton dan penyelenggara. Para juru kamera dengan teliti menyorot ratusan mata yang sarat dengan kamuflase kesedihan.

Mengapa harus dengan air mata? Hal ini karena air mata ternyata efektif membuat laris dan disenangi oleh pemirsa. Seolah-olah suara atau kualitas vokal mereka tidaklah cukup untuk dijual kepada masyarakat. Sehingga, semakin tragis kisahnya, semakin menarik untuk dijual, semakin strategis untuk meraup keuntungan.

Siapakah yang paling dirugikan? Siapa lagi kalau bukan muda-mudi muslim yang dinantikan potensinya untuk kejayaan umat ini? Wallahul must’an.

Selain dari sisi materi, ajang pencarian bakat atau idolisasi ini juga bagian dari perluasan hegemoni barat terhadap negara di dunia termasuk negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Maraknya idolisasi terhadap hiburan impor, menjadi bukti betapa kuatnya arus globalisasi dalam bidang hiburan yang mana globalisasi mengarah pada imperialisme budaya barat terhadap budaya lain. Inilah yang kemudian disebut dengan hegemoni barat. Tujuan utama dari hegemoni barat ini jelas, yakni untuk melanggengkan dominasi peradabannya terhadap bangsa lain.

Ironis di Tengah Mayoritas Umat Islam

Sebagai dampak ajang idolisasi ini, kita akan mendapati sebuah kenyataan yang sangat memprihatikan. Kebanyakan peminat ajang ini yang notebene adalah kaum muslimin, justru mengagumi dan mengidolai orang-orang yang tingkah laku dan gaya hidup mereka sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan mereka lebih mengenal nama-nama idola mereka tersebut dari pada nama-nama para Nabi ‘alaihimush-shalatu wassalam dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.

Kenyataan ini tentu saja sangatlah buruk dan berakibat fatal. Hal ini karena setiap pengidola, tentu akan membeo segala tingkah laku dan gaya hidup idolanya, tanpa menimbang lagi apakah hal itu bertentangan dengan nilai-nilai agama, keimanan dan akidah Islam atau tidak, karena toh memang mereka mengidolakannya bukan karena agama, tapi karena pertimbangan dunia dan hawa nafsu semata-mata. Bahkan yang lebih parah, dalam beberapa kasus, sampai pada tahapan mengikuti keyakinan kafir dan akidah sesat yang dianut sang idola tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kesamaan dalam (penampilan) lahir (antara dua orang manusia) akan mewariskan kasih sayang, cinta dan loyalitas (antara keduanya) dalam batin/hati, sebagaimana kecintaan dalam hati akan mewariskan kesamaan dalam (penampilan) lahir.

Meniru Adalah Watak Manusia

Memang, telah menjadi salah satu watak bawaan manusia sejak diciptakan Allah Ta’ala adalah kecenderungan untuk selalu meniru dan mengikuti orang lain yang dikaguminya, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Hal ini sebagaimana telah disinyalir oleh Rasulullah r  dalam sabdanya, artinya : “Ruh-ruh manusia adalah kelompok yang selalu bersama, maka yang saling bersesuaian di antara mereka akan saling dekat, dan yang tidak bersesuaian akan saling berselisih[HR. Bukhari dan Muslim].

Memilih Teladan dan Idola yang Terbaik

Oleh sebab itu, sebagai seorang yang beriman kepada Allah I  dan hari kemudian, tentu kita wajib memilih idola yang baik bagi keluarga kita, yang akan memberi manfaat bagi pembinaan rohani mereka.

Dalam hal ini, idola terbaik bagi seorang muslim adalah Nabi mereka, nabi Muhammad r, yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sebagaimana sabda beliau r, artinya : “Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” [HR. Ahmad (2/381) dan al-Hakim (no. 4221), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah” (no. 45)].

Beliau r  adalah sosok teladan dan idola yang sempurna bagi orang-orang yang beriman kepada Allah I  yang menginginkan kebaikan dan keutamaan dalam hidup mereka. Allah Ta’ala berfirman, artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS. al-Ahzaab:21).

Kemudian setelah itu, idola yang utama bagi seorang mukmin adalah orang-orang yang teguh dalam menegakkan tauhid dan keimanan mereka, sehingga Allah Ta’ala sendiri yang memuji perbuatan mereka sebagai “suri teladan yang baik” dalam firman-Nya, artinya : “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri (nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya (yang mengikuti petunjuknya); ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah semata” (QS. al-Mumtahanah:4).

Ketika mengomentari ayat ini, syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Sesungguhnya keimanan dan pengharapan balasan pahala (dalam diri seorang muslim) akan memudahkan dan meringankan semua yang sulit baginya, serta mendorongnya untuk senantiasa meneladani hamba-hamba Allah yang shaleh, (utamanya) para Nabi dan Rasul r, karena dia memandang dirinya sangat membutuhkan semua itu” [Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 856)].

Demikian pula para sahabat Rasulullah r   adalah teladan shaleh yang utama bagi orang yang beriman, karena Allah memuji mereka dalam banyak ayat al-Qur’an, di antaranya firman-Nya,  artinya : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia (para sahabat y) adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi penyayang di antara sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. al-Fath:29).

Dalam hal ini, Abdullah bin Mas’ud t berkata, “Barangsiapa di antara kamu yang ingin mengambil teladan, maka hendaknya dia berteladan dengan para sahabat Rasulullah r  , karena mereka adalah orang-orang yang paling baik hatinya di umat ini, paling dalam pemahaman (agamanya), paling jauh dari sikap berlebih-lebihan, paling lurus petunjuknya, dan paling baik keadaannya, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat nabi-Nya, maka kenalilah keutaman mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus”.

Menjadikan Diri Sebagai Teladan

Termasuk teladan yang utama bagi kelurga kita adalah diri kita sendiri, karena tentu saja kita adalah orang yang paling dekat dengan mereka dan paling mudah mempengaruhi akhlak dan tingkah laku mereka. Maka menampilkan teladan yang baik dalam sikap dan tingkah laku di depan anggota keluarga adalah termasuk metode pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung terlihat terkadang lebih besar dari pada pengaruh ucapan.

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah, ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, beliau berkata, “Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktek (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu, inilah yang dinamakan dengan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)’ “[Kitab “Hirasatul Fadhilah” (hal. 127-128)].

Bersama Dengan Sang Idola

Rasulullah r  bersabda, artinya : “Engkau bersama orang yang kamu cintai (di surga kelak)”. Sahabat yang mulia, Anas bin Malik t, yang meriwayatkan hadits r ini dari Rasulullah r , berkata: “Kami (para sahabat) tidak pernah merasakan suatu kegembiraan (setelah masuk Islam) seperti kegembiraan kami sewaktu mendengar sabda Rasulullah r  : “Engkau bersama orang yang kamu cintai (di surga kelak)”, maka aku mencintai Rasulullah r  , Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, dan aku berharap akan (dikumpulkan oleh Allah Ta’ala) bersama mereka (di surga nanti) karena kecintaanku kepada mereka, meskipun aku belum mengerjakan amalan seperti amalan mereka” [HR. Bukhari dan Muslim].

Nah, setelah kita membaca hadits ini, masihkah kita mengidolakan sosok selain mereka? Jika masih, siapkah kita dikumpulkan bersama idola itu? Bagaimana jika ternyata Allah I akhirnya menetapkan dengan hikmahNya, memasukkan idola itu ke dalam neraka akibat dosa dan pelanggaran selama di dunia? Tidak, tidak, tentu kita tidak akan mau dan siap.

Makanya, stop sekarang juga mengidolakan para artis, penyanyi, pezina dan lainnya yang jauh dari contoh teladan yang baik. Jauhi ajang idolisasi spektakuler itu. Jangan terpengaruh dengan hingar bingarnya. Jangan Saudaraku!

Allah I  berfirman, artinya : “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan (dikumpulkan) bersama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para Nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (QS an-Nisa’:69). Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Postingan Terbaru

Ke Mana Ayah Pergi?

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...