Gegap
gempita dunia hiburan Indonesia terus menjadi trend dan komoditas
industri yang produktif. Berbagai ajang yang spektakuler telah menyedot
perhatian sebagaian besar penduduk negeri ini untuk menikmati sisi entertain
hingga berpartisipasi aktif sebagai lakon entertain-nya. Kalangan muda-mudi
muslim lagi-lagi menjadi pelanggan tetapnya. Di antaranya yaitu ajang pencarian
idola dan bakat dengan model reality show. Sebut saja, Indonesian Idol,
Academia, dan lainnya, di mana lisensi pelaksanaan ajang tersebut (Indonesian
Idol) diperoleh dari Amerika Serikat melalui Fremantle Media.
Ajang
seperti Indonesian Idol ini sendiri telah menyebar hampir ke semua
negara. Di Arab sendiri, acara ini telah dilarang karena memakai nama “Arab
Idol”. Kaum muslimin di sana melarang acara ini ditayangkan di televisi karena
memakai kata “Idol”, yang berarti berhala.
Ajang
Kapitalisasi dan Hegemoni Budaya Barat
Kemiskinan
dan kehidupan dengan penuh keterbatasan menjadi hal yang tidak akan dilewatkan
oleh para kapitalis untuk mencari keuntungan berlipat.
Fenomena
menarik di ajang-ajang seperti ini adalah fenomena derai air mata dari para
peserta, penonton dan penyelenggara. Para juru kamera dengan teliti menyorot
ratusan mata yang sarat dengan kamuflase kesedihan.
Mengapa
harus dengan air mata? Hal ini karena air mata ternyata efektif membuat laris
dan disenangi oleh pemirsa. Seolah-olah suara atau kualitas vokal mereka
tidaklah cukup untuk dijual kepada masyarakat. Sehingga, semakin tragis
kisahnya, semakin menarik untuk dijual, semakin strategis untuk meraup
keuntungan.
Siapakah
yang paling dirugikan? Siapa lagi kalau bukan muda-mudi muslim yang dinantikan
potensinya untuk kejayaan umat ini? Wallahul must’an.
Selain
dari sisi materi, ajang pencarian bakat atau idolisasi ini juga bagian dari
perluasan hegemoni barat terhadap negara di dunia termasuk negara yang sedang
berkembang seperti Indonesia. Maraknya idolisasi terhadap hiburan impor,
menjadi bukti betapa kuatnya arus globalisasi dalam bidang hiburan yang mana
globalisasi mengarah pada imperialisme budaya barat terhadap budaya lain.
Inilah yang kemudian disebut dengan hegemoni barat. Tujuan utama dari hegemoni
barat ini jelas, yakni untuk melanggengkan dominasi peradabannya terhadap
bangsa lain.
Ironis di
Tengah Mayoritas Umat Islam
Sebagai
dampak ajang idolisasi ini, kita akan mendapati sebuah kenyataan yang sangat
memprihatikan. Kebanyakan peminat ajang ini yang notebene adalah kaum muslimin,
justru mengagumi dan mengidolai orang-orang yang tingkah laku dan gaya hidup
mereka sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan mereka lebih mengenal
nama-nama idola mereka tersebut dari pada nama-nama para Nabi ‘alaihimush-shalatu
wassalam dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah Ta’ala.
Kenyataan
ini tentu saja sangatlah buruk dan berakibat fatal. Hal ini karena setiap
pengidola, tentu akan membeo segala tingkah laku dan gaya hidup idolanya, tanpa
menimbang lagi apakah hal itu bertentangan dengan nilai-nilai agama, keimanan
dan akidah Islam atau tidak, karena toh memang mereka mengidolakannya bukan
karena agama, tapi karena pertimbangan dunia dan hawa nafsu semata-mata. Bahkan
yang lebih parah, dalam beberapa kasus, sampai pada tahapan mengikuti keyakinan
kafir dan akidah sesat yang dianut sang idola tersebut.
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kesamaan dalam
(penampilan) lahir (antara dua orang manusia) akan mewariskan kasih sayang,
cinta dan loyalitas (antara keduanya) dalam batin/hati, sebagaimana kecintaan
dalam hati akan mewariskan kesamaan dalam (penampilan) lahir.
Meniru
Adalah Watak Manusia
Memang,
telah menjadi salah satu watak bawaan manusia sejak diciptakan Allah Ta’ala
adalah kecenderungan untuk selalu meniru dan mengikuti orang lain yang
dikaguminya, baik dalam kebaikan maupun keburukan. Hal ini sebagaimana telah
disinyalir oleh Rasulullah r dalam sabdanya, artinya : “Ruh-ruh manusia
adalah kelompok yang selalu bersama, maka yang saling bersesuaian di antara
mereka akan saling dekat, dan yang tidak bersesuaian akan saling berselisih”
[HR. Bukhari dan Muslim].
Memilih
Teladan dan Idola yang Terbaik
Oleh
sebab itu, sebagai seorang yang beriman kepada Allah I dan hari kemudian, tentu kita wajib memilih
idola yang baik bagi keluarga kita, yang akan memberi manfaat bagi pembinaan
rohani mereka.
Dalam hal
ini, idola terbaik bagi seorang muslim adalah Nabi mereka, nabi Muhammad r, yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk menyempurnakan akhlak yang mulia,
sebagaimana sabda beliau r, artinya
: “Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” [HR. Ahmad (2/381) dan al-Hakim (no. 4221), dinyatakan hasan oleh syaikh
al-Albani dalam “Silsilatul ahaadiitsish shahiihah” (no. 45)].
Beliau r adalah sosok teladan dan idola
yang sempurna bagi orang-orang yang beriman kepada Allah I yang menginginkan kebaikan dan keutamaan dalam
hidup mereka. Allah Ta’ala berfirman, artinya : “Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang
mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah” (QS. al-Ahzaab:21).
Kemudian
setelah itu, idola yang utama bagi seorang mukmin adalah orang-orang yang teguh
dalam menegakkan tauhid dan keimanan mereka, sehingga Allah Ta’ala sendiri yang
memuji perbuatan mereka sebagai “suri teladan yang baik” dalam firman-Nya,
artinya : “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri
(nabi) Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya (yang mengikuti petunjuknya);
ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari
kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan
telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya
sampai kamu beriman kepada Allah semata” (QS. al-Mumtahanah:4).
Ketika
mengomentari ayat ini, syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata,
“Sesungguhnya keimanan dan pengharapan balasan pahala (dalam diri seorang
muslim) akan memudahkan dan meringankan semua yang sulit baginya, serta
mendorongnya untuk senantiasa meneladani hamba-hamba Allah yang shaleh,
(utamanya) para Nabi dan Rasul r, karena
dia memandang dirinya sangat membutuhkan semua itu” [Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 856)].
Demikian
pula para sahabat Rasulullah r adalah teladan shaleh yang utama bagi orang
yang beriman, karena Allah memuji mereka dalam banyak ayat al-Qur’an, di
antaranya firman-Nya, artinya : “Muhammad
itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia (para sahabat y) adalah keras terhadap orang-orang kafir,
tetapi penyayang di antara sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud
mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka
mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan
sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya
maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak
lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena
Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. al-Fath:29).
Dalam hal
ini, Abdullah bin Mas’ud t berkata, “Barangsiapa di antara kamu yang
ingin mengambil teladan, maka hendaknya dia berteladan dengan para sahabat
Rasulullah r , karena mereka adalah
orang-orang yang paling baik hatinya di umat ini, paling dalam pemahaman
(agamanya), paling jauh dari sikap berlebih-lebihan, paling lurus petunjuknya,
dan paling baik keadaannya, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah
untuk menjadi sahabat nabi-Nya, maka kenalilah keutaman mereka dan ikutilah
jejak-jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang
lurus”.
Menjadikan
Diri Sebagai Teladan
Termasuk
teladan yang utama bagi kelurga kita adalah diri kita sendiri, karena tentu
saja kita adalah orang yang paling dekat dengan mereka dan paling mudah
mempengaruhi akhlak dan tingkah laku mereka. Maka menampilkan teladan yang baik
dalam sikap dan tingkah laku di depan anggota keluarga adalah termasuk metode
pendidikan yang paling baik dan utama. Bahkan para ulama menjelaskan bahwa
pengaruh yang ditimbulkan dari perbuatan dan tingkah laku yang langsung
terlihat terkadang lebih besar dari pada pengaruh ucapan.
Syaikh
Bakr Abu Zaid rahimahullah, ketika menjelaskan pengaruh tingkah laku
buruk seorang ibu dalam membentuk kepribadian buruk anaknya, beliau berkata,
“Jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak
menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang
dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar
rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahramnya, dan lain
sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa)
praktek (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak)
dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji,
berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga
kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu, inilah yang dinamakan
dengan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)’ “[Kitab
“Hirasatul Fadhilah” (hal. 127-128)].
Bersama
Dengan Sang Idola
Rasulullah
r bersabda, artinya : “Engkau
bersama orang yang kamu cintai (di surga kelak)”. Sahabat yang mulia, Anas
bin Malik t, yang meriwayatkan hadits r ini dari Rasulullah r ,
berkata: “Kami (para sahabat) tidak pernah merasakan suatu kegembiraan (setelah
masuk Islam) seperti kegembiraan kami sewaktu mendengar sabda Rasulullah r : “Engkau bersama orang yang
kamu cintai (di surga kelak)”, maka aku mencintai Rasulullah r , Abu Bakr dan Umar radhiyallahu
‘anhuma, dan aku berharap akan (dikumpulkan oleh Allah Ta’ala) bersama mereka
(di surga nanti) karena kecintaanku kepada mereka, meskipun aku belum
mengerjakan amalan seperti amalan mereka” [HR.
Bukhari dan Muslim].
Nah,
setelah kita membaca hadits ini, masihkah kita mengidolakan sosok selain
mereka? Jika masih, siapkah kita dikumpulkan bersama idola itu? Bagaimana jika
ternyata Allah I akhirnya menetapkan dengan hikmahNya, memasukkan idola itu ke dalam neraka
akibat dosa dan pelanggaran selama di dunia? Tidak, tidak, tentu kita tidak
akan mau dan siap.
Makanya,
stop sekarang juga mengidolakan para artis, penyanyi, pezina dan lainnya yang
jauh dari contoh teladan yang baik. Jauhi ajang idolisasi spektakuler itu.
Jangan terpengaruh dengan hingar bingarnya. Jangan Saudaraku!
Allah I berfirman, artinya : “Dan barangsiapa yang
mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan (dikumpulkan) bersama dengan
orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para Nabi, para shiddiqin,
orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman
yang sebaik-baiknya” (QS an-Nisa’:69). Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar