Di sebuah desa terpencil daerah jawa barat sana hidup seorang kyai yang sangat karismatik nan wibawa, banyak orang yang datang mengunjunginya baik dari kalangan muda-tua, kaya-miskin, rakyat biasa sampai penjabat teras. Mereka rela berjalan kaki menempuh perjalanan setapak yang lumayan terjal.Konon, begitu berkahnya sang kyai; pakaian bekas kyai dan air sisa wudhu'nya menjadi rebutan para pengunjung.
Cerita atau ritual semacam ini begitu marak mewarnai perikehidupan mayoritas kaum muslimin hari ini. Dan semua ritual itu hanya memiliki satu tujuan yaitu, "mencari berkah" atau dalam istilah Islam disebut dengan "tabarruk”.
Sebagai seorang muslim yang mengharapkan keridhaan Allah Rabbul ‘Alamin pada setiap Ibadah dan amal kita, tentu kita tidak ingin terjatuh ke dalam lembah kesyirikan dan dosa karena kejahilan (kebodohan) .
Nah, bagaimana sebenarnya Dinul Islam mendudukkan dan mengatur masalah “tabarruk” ini? Berikut kami tuliskan penjelasannya. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan pertunjukNya kepada kia semua.
************************************************************************
DEFINISI
Al-barakah (اْلبَرَكَةُ) yang bentuk jamaknya al-barakaat (اْلبَرَكَاتُ) maknanya adalah kebaikan yang melimpah (Tafsir Al-Qurthubi (4/139).
Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: "Barakah berarti kebaikan yang banyak dan tetap. (Lihat Al Qaul Al Mufid 1:245).
Adapun tabarruk (التَّبَرُّكُ) merupakan mashdar dari تَبَرَّكَ - يَتَبَرَّكُ , yang artinya adalah mengharapkan barakah (طَلَبُ اْلبَرَكَةَ).
Jadi tabarruk dengan sesuatu artinya adalah mengharapkan keberkahan dengan perantaraan sesuatu tersebut.
BARAKAH DATANGNYA DARI ALLAH
Sesungguhnya semua barakah itu berasal dari Allah, sebagaimana halnya rizki, pertolongan, dan kesehatan. Dia memberi kekhususan kepada sebagian makhluk-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan kebaikan, keutamaan, karunia, dan keberkahan dari-Nya; seperti para Rasul, Nabi, Malaikat, dan sebagian orang-orang shalih.
Allah ta’ala berfirman, artinya :“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus” [QS. Al-Baqarah : 253].
Juga firmanNya, artinya : “Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishaq seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishaq.” [QS. Ash-Shaaffat : 112-113].
Kita tidak boleh meminta barakah kecuali dari Allah, karena Dia-lah pemberi barakah. Allah ta’ala berfirman, artinya : “Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [QS. Ali-‘Imran : 26].
Dari Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Kami menganggap ayat-ayat Allah sebagai suatu barakah, sedangkan kalian menganggapnya sebagai satu hal yang menakutkan. Kami pernah bersama-sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan bepergian. Kami kekurangan air. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ‘Carilah kelebihan air’. Para shahabat lain datang dengan membawa sebuah bejana berisikan air yang cuma sedikit. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangannya ke dalam bejana itu kemudian bersabda : ‘Hai, inilah air yang sangat suci dan dibarakahi, dan barakah itu berasal dari Allah’. Aku kemudian melihat bahwa air itu keluar dari jari-jari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3579].
TABARRUK YANG DISYARIATKAN
Sesungguhnya mencari barakah terhadap sesuatu adalah dengan sesuatu yang padanya memang terdapat barakah. Dan ini menuntut penunjukkan pada nash/dalil. Bukan pada perasaan dan prasangka semata. Artinya, seseorang mencari barakah pada sesuatu yang pada asalnya mempunyai barakah berdasarkan/sesuai dengan nash/dalil baik dari al-qur’an maupun As Sunnah yang shahih dan harus pula dilakukan dengan cara-cara yang dibenarkan oleh syari’at.
Namun perlu diingat, bahwa benda-benda, ucapan-ucapan, dan perbuatan-perbuatan yang oleh syara’ diperbolehkan untuk dipakai mencari kebarakahan, tidak lain itu semua hanyalah merupakan sarana saja. Ia bukanlah yang memberikan barakah. Melainkan Allah Subhanhu Wa Ta’ala sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.
Di antara benda, tempat, waktu, perbuatan dan lainnya yang oleh syara’ diperbolehkan untuk dipakai mencari kebarakahan, adalah :
I. Bertabarruk Dengan Ucapan dan Perbuatan
Banyak ucapan, perbuatan serta keadaan yang diberkahi jika seorang hamba yang muslim melakukannya untuk mencari kebaikan dan barakah melalui sebab tersebut dengan mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia akan mendapatkan kebaikan dan barakah itu sesuai dengan niat dan kesungguhannya, jika tidak ada penghalang syar'i yang menghalanginya.
Di antara ucapan-ucapan yang mengandung barakah adalah dzikir kepada Allah (dzikrullah) dan membaca Al-Qur'an.
Dengan membaca Al-Qur'an seorang hamba dapat memperoleh kebaikan serta barakah yang banyak, karena membaca Al-Qur'an termasuk jenis dzikir yang paling agung, di dalamnya terdapat barakah dunia dan akhirat yang tidak ada yang mampu menghitungnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya : "Bacalah Surat Al Baqarah karena membacanya adalah suatu berkah dan meninggalkannya adalah kerugian dan dengannya tidak akan terkena sihir" (HR. Muslim)
Adapun bertabarruk dengan perbuatan-perbuatan yang diberkahi antara lain: makan bersama dan dimulai dari pinggir makanan, serta menjilat jari (setelah makan) dan makan secukupnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Berkumpullah kalian menikmati makanan dan sebutlah nama Allah, kalian akan diberkahi padanya. (HHR. Abu Dawud,Ahmad dan Ibnu Majah).
Semua ucapan atau perbuatan yang diperintahkan olah Allah dan Rasul-Nya, kemudian dilakukan seorang hamba dengan ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti sunnah) niscaya akan menjadi penyebab turunnya barakah.
II. Bertabarruk Dengan Tempat
Allah menjadikan barakah pada beberapa tempat di muka bumi. Barang siapa mencari barakah pada tempat tersebut, beramal dengan ikhlas dan mutaba`ah, niscaya dia akan mendapatkannya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Tempat-tempat tersebut antara lain:
1. Masjid-Masjid
Bertabarruk dengan masjid bukan dengan mengusap tanah atau temboknya. Karena tabarruk adalah perkara ibadah maka harus sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mencari barakah melalui masjid-masjid adalah dengan i'tikaf di dalamnya, menunggu shalat lima waktu, shalat berjamaah, menghadiri majelis-majelis dzikir di sana dan perkara-perkara yang disyariatkan lainnya. Adapun perkara ibadah yang tidak disyariatkan tidak akan mendatangkan barakah, bahkan termasuk perbuatan bid'ah.
Di antara masjid yang memiliki keistimewaan tambahan dalam hal barakah adalah : masjidil haram, masjid Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, masjidil Aqsha dan masjid Quba'.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya : "Shalat di masjidku ini lebih baik seribu kali daripada shalat di masjid yang lain kecuali masjidil haram". (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain ada tambahan yang artinya : "Dan shalat di masjidil haram lebih afdhal seratus kali dari pada shalat di masjidku ini". (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang masjid Quba, artinya : "Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu datang ke masjid Quba' dan shalat padanya dengan satu shalat maka baginya seperti pahala umrah" (HSR. Ahmad, An-Nasai dan Ibnu Majah).
2. Kota Makkah, Madinah dan Syam
Allah berfirman : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya” [QS. Al-Israa’ : 1].
Dari Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda : “Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan (memuliakan) Makkah dan mendoakan penduduknya. Dan sesungguhnya aku telah mengharamkan (memuliakan) Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan aku juga mendoakan penduduk Madinah sebagaimana Ibrahim telah mendoakan penduduk Makkah” [HR. Muslim no. 1360].
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, artinya : “Ya Allah, berkahilah bagi kami negeri Syaam kami dan Yaman kami….” [HR. Al-Bukhari no. 1037].
Orang yang bermukim di Makkah, Madinah atau Syam dengan mengharap barakah Allah Subhanahu wa Ta'ala pada tempat tersebut, baik dalam hal tambahan rezki atau dihindarkan dari fitnah, berarti dia telah diberi taufiq untuk mendapatkan kebaikan yang banyak.
Adapun kalau seorang bertabarruk dengan mengusap tanah, batu-batuan, tembok dan pepohonannya, atau dengan mengambil tanahnya untuk dicampur dengan air dan dijadikan obat atau yang semisal itu, maka dia justru akan mendapatkan dosa karena mengamalkan bid'ah. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah bertabarruk dengan cara seperti itu.
3. Arafah, Muzdalifah dan Mina
Ketiga tempat tersebut juga termasuk diberkahi karena banyak kebaikan yang turun kepada manusia di tempat-tempat tersebut berupa pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka serta pahala yang besar sebagai barakah beritibba' kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian pula wuquf (menetap) di tempat tersebut pada waktu yang disyariatkan.
III. Bertabarruk Dengan Waktu
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengkhususkan beberapa waktu dalam hal keutamaan dan barakah. Barangsiapa memilih waktu-waktu tersebut untuk melakukan kebaikan padanya serta bertabarruk dengan menjalankan amal-amal yang disyariatkan pada waktu tersebut, niscaya dia akan memperoleh barakah yang agung, antara lain :
1. Bulan Ramadhan,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya : "Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadlan, bulan yang diberkahi" (HR. Ahmad).
Adapun barakah yang Allah jadikan pada bulan Ramadhan antara lain berupa pengampunan dosa, tambahan rezki bagi seorang mukmin, pendidikan (jiwa) serta pahala yang besar di sisi Allah.
2. Malam lailatul Qadar,
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya : "(malam) Lailatul Qadri itu lebih baik dari seribu bulan" (QS. Al Qadr : 3)
3. Hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi orang yang berhaji.
Allah membanggakan orang-orang yang wuquf di Arafah kepada para malaikat-Nya selama mereka datang semata-mata untuk mencari ampunan. Sedangkan berpuasa bagi yang tidak haji akan mendapatkan barakah yaitu diampuni dosa-dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya : "...dan puasa pada hari Arafah, aku berharap kepada Allah untuk mengampuni setahun yang lalu dan setahun sesudahnya..." (HR. Muslim)
4. Hari Jum'at,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya : "Padanya terdapat satu waktu yang tidaklah bertepatan dengan seorang muslim yang mendirikan shalat meminta sesuatu kepada Allah kecuali Allah akan memberikannya kepadanya" (HR. Bukhari).
5. Sepertiga malam terakhir,
Adapun sepertiga malam terakhir, ketika Allah turun ke langit dunia, turun pula barakah yang agung bagi orang yang berdo'a dan minta ampun pada waktu tersebut. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang artinya : "Rabb kita Tabaraka wa Ta'ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir.
Allah berfirman, artinya :"Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang minta kepada-Ku, Aku akan memberinya dan siapa yang meminta ampun kepada-Ku, Aku akan mengampuninya." (HR. Bukhari).
6. Waktu Sahur.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya : “Sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat barakah” [HR. Al-Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095].
Barakah makan sahur hanya akan kita dapatkan bila kita memakan makanan yang baik lagi halal. Sebaliknya, barakah tidak akan kita dapatkan jika kita makan atau minum yang diharamkan oleh Allah ta’ala (misalnya : makan daging babi, minum khamr, dan merokok).
7. 10 hari (awal) bulan Dzulhijjah
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhuma bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, artinya : ”Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun". (HR. Al Bukhari).
8. Hari Senin dan Kamis.
Di antara dalil yang menunjukkan keutamaannya, Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, artinya : “Pintu-pintu Surga di buka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim)
9. Bulan – Bulan Haram
Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa ta’ala, artinya : ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” (QS. At Taubah :36)
Adapun maksud dari firman Allah : ”Janganlah kamu menganiaya diri kamu” yakni, pada bulan-bulan haram karena kesalahan atau dosa yang dikerjakan waktu itu lebih besar dibandingkan dengan kesalahan atau dosa yang dikerjakan pada bulan-bulan selainnya.
Berkata Qatadah : “Sesungguhnya kezholiman yang dikerjakan pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan jika dikerjakan di luar bulan-bulan haram, walaupun sebenarnya kezholiman di dalam segala hal dan keadaan merupakan dosa besar akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa mengagungkan dan memuliakan beberapa perkara/urusan menurut kehendakNya”. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat At Taubah: 36).
Diriwayatkan dari Abu Bakrah , Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, artinya : “…Setahun terdiri dari dua belas bulan di dalamnya terdapat empat bulan haram, tiga diantaranya berurutan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan keempat adalah Rajab yang diantarai oleh Jumadil (awal dan tsani) dan Sya’ban” (HR. Bukhari).
Sekali lagi, mencari barakah pada waktu-waktu tersebut harus dengan cara yang telah disyariatkan oleh Allah dan sesuai dengan bimbingan Rasul-Nya 'Alaihis Shalaatu was salaam. Kalau seorang hamba mencari barakah pada waktu-waktu tersebut dengan amal yang tidak disyariatkan niscaya dia tidak akan diberi taufiq untuk mendapatkan barakah tersebut.
IV. Bertabarruk Dengan Makanan
Barakah juga terdapat pada beberapa jenis makanan sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti :
1. Air Zam - Zam
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya : َ“Sebaik-baik air yang ada di muka bumi adalah air zam-zam” [HR.Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir 11/98; hasan].
2. Al-Habatus Sauda' (jintan hitam)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya : “Sesungguhnya dalam habbatus-saudaa’ itu terdapat penyembuh bagi seluruh penyakit, kecuali as-saam (kematian)” [HR. Muslim no. 2215].
3. Minyak Zaitun.
Di antara makanan yang berbarokah adalah Minyak yang keluar dari pohon zaitun, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,artinya : ”Makanlah zaitun dan berminyaklah dengannya, sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.” (HR Ahmad 3/497).
4.Madu.
Secara khusus Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya: "Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya. Di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia." (QS. An-Nahl : 69).
5. Kurma.
Di anatar keberkahan kurma, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,artinya : ”Barang siapa yang makan pagi dengan tujuh butir kurma Ajwah, maka tak akan mencelakainya racun dan sihir dihari itu” (HR. Al-Bukhari).
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, artinya : ”Sebaik-baik makanan sahur seorang mukmin adalah tamr (kurma).” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 562 dan Shahihul Jami’ish Shaghir, 2/1146 no. 6772).
Makanan lainnya, seperti : susu, daging kuda dan daging kambing.
V. Bertabarruk Dengan Dzat Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam
Dzat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengandung barakah dan diperbolehkan ber-tabarruk dengannya. Hal ini seperti dijelaskan pada beberapa hadits di antaranya :
Dari Anas bin Malik ia berkata : “Setiap kali Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak melakukan shalat shubuh, para pelayan Madinah datang dengan membawa bejana-bejana mereka yang berisi air. Setiap kali didatangkan bejana, beliau memasukkan tangan beliau ke dalamnya. Terkadang beliau mendatangi beliau di pagi hari yang dingin. Tetapi tetap saja beliau berkenan memasukkan tangannya ke bejana yang berisikan air yang mereka bawa tersebut” .
Dalam riwayat lain Anas mengatakan : “Aku pernah menyaksikan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tengah dicukur oleh seorang tukang cukur. Beliau dikelilingi oleh para shahabatnya. Mereka tidak menginginkan sehelai rambut pun jatuh percuma tanpa didapatkan oleh orang di antara mereka” [HR. Muslim no. 2325].
Dari Anas bin Malik ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pada suatu hari pernah masuk ke rumah Ummu Sulaim. Beliau lalu tidur di atas alas tidur Ummu Sulaim ketika ia tidak ada di rumah. Pada hari lainnya beliau juga datang dan melakukan hal yang sama. Ketika Ummu Sulaim datang, ada yang melapor bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidur di alas tidur di rumahnya. Segera saja Ummu Sulaim masuk dan mendapati Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersimbah keringat yang sangat banyak sehingga mengenai sepotong kulit yang berada di dekat alas tidur tersebut. Kemudian Ummu Sulaim menyeka keringat tersebut lalu memerasnya ke dalam botol-botol yang terbuat dari kaca. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam terbangun dan merasa kaget. Beliau bertanya : “Apa yang sedang kamu lakukan wahai Ummu Sulaim ?”. Ia menjawab : “Wahai Rasulullah, kami mengharapkan barakahnya untuk anak-anak kami”. Maka beliau berkata : “Engkau benar” [HR. Muslim no. 2331].
Semua hal ini adalah kekhususan beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam yang tidak terdapat pada selain beliau. Dan semua hal ini (berupa rambut, pakaian, dan yang lainnya ) hanya ada ketika beliau masih hidup . Sehingga semua peninggalan beliau tersebut (berupa rambut, pakaian, dan yang lainnya) telah hilang karena beliaupun telah wafat Maka, bertabarruk dengan dzat atau atsar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sudah tidak bisa dilakukan lagi.
TABARRUK YANG TIDAK ISYARIATKAN
Tabarruk yang tidak syar’i atau terlarang yaitu tabarruk yang tidak ada dalil syar’inya atau tidak mengikuti tuntunan syariat. Jenis tabarruk sungguh banyak sekali, seiring dengan semakin jahiln dan jauhnya kaum muslimin dari agamanya. Di antaranya :
1.Tabarruk dengan perkataan dan perbuatan: Sholawat atau zikir yang bid’ah.
2.Tabbaruk dengan tempat: Ziarah religius ke kubur para wali.
3.Tabarruk dengan waktu: menghidupkan malam nisfu sya’ban, mengadakan perayaan maulid nabi, Isra’ Mi’raj, Nuzulul Quran dan sebangsanya.
4.Tabarruk dengan makanan dan minuman: minum sisa kiai, berebut tumpeng sekaten.
5.Tabarruk dengan benda-benda: mengambil tanah karbala, berebut kotoran “Kyai Slamet”, sabuk supranatural.
6.Tabarruk dengan zat orang sholih atau peninggalannya: meminum ludahnya atau keringatnya, berebut bekas peci atau bajunya, memilih sholat di tempat orang sholih itu sholat, meminum atau menyimpan sisa air wudhu’ orang sholih, atau dengan menciumi lututnya.
TABARRUK KEPADA POHON, BATU DAN SEJENISNYA ADALAH KESYIRIKAN
Abu Waqid Al-Laitsi menuturkan, Suatu saat kami pergi keluar bersama Rosululloh sholallahu alaihi wa sallam ke Hunain, sedang kami dalam keadaan baru saja masuk Islam. Kemudian kami melewati sebuah pohon milik orang-orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath, mereka selalu mendatanginya dan menggantungkan senjata-senjata perang mereka pada pohon itu untuk mencari berkah. Kami pun berkata: “Ya Rosululloh, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana Dzatu Anwath mereka.” Maka Rosululloh bersabda: “Allahu Akbar, itulah tradisi (orang-orang sebelum kamu). Dan demi Alloh yang diriku hanya berada di Tangan-Nya, ucapan kalian seperti perkataan Bani Israil kepada Musa: ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana tuhan orang-orang itu.’ Musa menjawab, ‘Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengerti.’” Beliau bersabda lagi, “Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu (Yahudi dan Nasrani).” (Hadits shohih, riwayat At-Tirmidzi).
Mereka para sahabat meminta kepada Rosululloh untuk bertabarruk dengan pohon tersebut sebagaimana orang musyrik. Namun jawaban beliau amat keras, beliau malah menyamakan permintaan itu dengan meminta sesembahan selain Alloh, dan ini adalah syirik besar. Namun mereka melakukan itu karena baru saja lepas dari kekufuran dan belum mengetahui bahwa hal tersebut dilarang. Dan mereka belum melaksanakan permintaan tersebut. Dari hadits ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hal-hal yang diperbuat oleh orang-orang yang meyakini bahwa boleh ngalap berkah dari pohon dan bebatuan, wukuf dan menyembelih hewan di tempat tersebut merupakan kesyirikan.
Tidakkah kita lihat bagaimana Umar bin Khottob ketika beliau mencium Hajar Aswad beliau mengatakan, “Sungguh aku tahu bahwa kamu hanyalah sebuah batu, tidak mendatangkan manfaat juga tidak mendatangkan mudhorot. Seandainya aku tidak melihat Rosululloh menciummu maka aku pun tidak akan menciummu.” (Bukhori). Lihatlah kepasrahan Umar terhadap syariat yang ditetapkan ketika beliau mencium Hajar Aswad. Beliau mencium Hajar Aswad karena mencontoh Rosululloh, dan dengan mencontoh Rosululloh inilah didapatkan barokah. Lain halnya dengan beberapa kaum muslimin yang justru malah mengusap baju-baju mereka di Hajar Aswad untuk mencari berkah! Masya Alloh!
Demikian yang dapat kami tuliskan. Semoga bermanfaat.
Wallahu A'lam.
Maraji':
At Tabarruk Al Masyru' Wa At Tabarruk Al Mamnu, oleh : Syaikh Ali bin Nuffayyi' Al Yani ;
Tabarruk yang Disyaraitkan, oleh : Abu Abdirrahman, http://www.wahdah.or.id/wahdah/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=68 ;
Dialog Bersama Pecinta Kubur, oleh : Abul Jauzaa’, http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/10/dialog-bersama-pecinta-kubur.html ;
Ngalap Berkah, oleh : Abu Hasan R. Saputra, http://muslim.or.id/aqidah/ngalap-berkah.html ;
Puasa Asyura dan Bulan Muharram, oleh : Abu Muhammad, http://www.wahdah.or.id/wis/index.php?option=com_content&task=view&id=1123&Itemid=189 ;
Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah Dan Amalan Yang Disyariatkan, Oleh : Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin, http://www.almanhaj.or.id/content/2001/slash/0 ;
Beberapa Keutamaan Dan Keberkahan Hari Senin Dan Kamis, oleh : Dr. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al Juda’i http://abuzubair.wordpress.com/2008/01/30/beberapa-keutamaan-dan-keberkahan-hari-senin-dan-kamis/ ;
http://gardumuslim.com/index.php?option=com_content&view=article&id=131:memaknai-tabarruk-meminta-berkah-bag-1&catid=25:alakidah&Itemid=11;
http://salamahfood.com/index.php?p=p_55&sName=madu-murni;
http://www.lintasberita.com/all/local/KeutamaanKhasiat_Kurma_Ajwah ;
http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=302 ;
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Postingan Terbaru
Ke Mana Ayah Pergi?
“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” Begitulah ...
-
Masih saja, sebagian kaum muslimin kukuh dengan kebiasaannya membaca surah yasin kepada orang yang akan maupun telah meninggal dunia. Tid...
-
Perjalanan kehidupan manusia tidaklah selalu sesuai yang diharapkan. Terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah bebera...
-
Segala puji bagi Allah I yang telah menyempurnakan Islam dengan mengutus Rasulullah Muhammad r yang membawa manhaj dan jalan hidup yan...
Postingan yang bagus. Sebagai info juga, banklink blog ini ada di http://www.surau.net/jurnal.php. Perkenankan kami
BalasHapusposting info juga, barangkali ada manfaatnya.
1. Sarang semut papua
2. Madu alam super
3. Name chemistry
4. Foto jadi kartu lebaran
5. Umroh, haji dan investasi
6. Reklame & percetakan
7. Privat English & sertifikat
8. Freeware - shopping cart
9. Freeware - mesin email
10. Kursus gratis
11. Iklan bonafid
Info selengkapnya: http://sutaryo.net/promosi.htm